Bireuen – detikperistiwa.co.id
Isu yang menyeret nama Bupati Bireuen terkait penggunaan warna pada rumah bantuan Baitul Mal kembali memunculkan kegaduhan di ruang publik. Tuduhan bahwa warna cat dipolitisasi kini mengundang reaksi beragam, terutama dari masyarakat miskin yang justru menjadi penerima manfaat bantuan tersebut.
Pernyataan anggota DPRK Bireuen, Tgk. Ismayadi, yang menuding adanya intervensi politik dalam pemilihan warna bangunan, memicu perdebatan panjang. Namun di balik hiruk-pikuk politik itu, ada kisah manusia yang lebih sunyi dan jujur: keluarga yang selama bertahun-tahun tinggal di rumah tak layak, menahan bocoran atap, dinding retak, dan lantai yang lapuk dimakan usia.
Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas, Arizal Mahdi, menegaskan bahwa suara rakyat kecil harus menjadi pusat perhatian dalam polemik ini. Menurutnya, masyarakat tidak pernah mempermasalahkan soal warna. Mereka hanya ingin hidup dengan aman, nyaman, dan bermartabat.
“Kalau dulu rumah rehab bantuan pemerintah dan WC dicat hijau, tidak ada yang mempersoalkan. Sekarang ketika warnanya berubah, tiba-tiba muncul kegaduhan. Jangan sampai rakyat miskin menjadi korban kebisingan politik,” ujarnya.
Arizal juga mengingatkan bahwa bantuan Baitul Mal adalah hak umat yang wajib dikelola dengan amanah dan syariat. Polemik yang tidak berdasar hanya akan mengaburkan kerja pemerintah dalam membantu masyarakat kecil.
Di sejumlah gampong, para penerima bantuan justru menyampaikan rasa syukur yang mendalam. Seorang ibu rumah tangga yang menerima rumah bantuan mengatakan bahwa ia sama sekali tidak memikirkan warna bangunan yang ia tempati.
“Warna apa pun tak apa. Yang penting kami bisa tinggal dengan layak. Dulu malam-malam kami takut angin kencang karena rumah mau roboh. Sekarang anak-anak bisa tidur tenang. Jangan jadikan rumah kami bahan perpecahan,” ungkapnya.
Bagi banyak keluarga miskin, rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah tempat berteduh, tempat menyimpan harapan, dan tempat membangun masa depan anak-anak mereka. Karena itu, mereka heran mengapa kepedulian terhadap “warna cat” tiba-tiba menjadi isu besar, padahal kebutuhan yang jauh lebih penting masih harus diperjuangkan.
Tokoh masyarakat Bireuen juga mempertanyakan alasan munculnya polemik ini. Menurut mereka, selama bantuan tepat sasaran dan membawa manfaat, persoalan warna tidak perlu dibesar-besarkan.
“Kalau niatnya membantu, mengapa warna dipersoalkan? Yang penting bantuan itu bermanfaat bagi rakyat,” kata seorang tokoh gampong yang enggan disebutkan namanya.
Hingga berita ini ditulis, pemerintah daerah menegaskan bahwa program bantuan Baitul Mal berjalan sesuai mekanisme dan tidak dimuati kepentingan politik. Aparatur Baitul Mal juga memastikan bahwa semua proses dilakukan secara transparan dan profesional.
Masyarakat kini hanya berharap agar polemik ini diakhiri demi ketenangan bersama. Mereka ingin perhatian pemerintah dan DPRK difokuskan pada penambahan bantuan, perbaikan fasilitas umum, serta upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat kecil.
Bagi mereka, rumah bukan soal warna. Rumah adalah kehormatan, tempat kembali, dan simbol harapan bagi keluarga miskin di Bireuen.




