Haji Subarni Dirikan Dapur Umum Besar di Masjid Agung Bireuen, Jadi Tempat Berlindung Lebih dari 600 Korban Banjir yang Mencari Keluarga

Haji Subarni Dirikan Dapur Umum Besar di Masjid Agung Bireuen, Jadi Tempat Berlindung Lebih dari 600 Korban Banjir yang Mencari KeluargaBireuen — Di tengah banjir besar yang menyapu rumah, memutus jalan, dan memisahkan ribuan keluarga di Aceh, satu nama kembali hadir sebagai tempat harapan rakyat kecil: Haji Subarni, dermawan besar Bireuen yang sejak dulu tidak pernah meninggalkan masyarakat di saat paling gelap.Ketika air bah datang tanpa memberi waktu untuk berpikir, banyak warga berlarian sambil memanggil nama anak, orang tua, atau keluarga mereka yang tiba-tiba hilang dari pandangan. Mereka tiba di Bireuen dengan wajah cemas, membawa doa yang patah oleh ketakutan, berharap menemukan orang yang mereka cintai dalam keadaan selamat.Di tengah kepanikan itu, Masjid Agung Bireuen menjelma menjadi pusat perlindungan, tempat masyarakat berkumpul untuk menenangkan diri. Dan di sanalah dapur umum milik Haji Subarni menjadi cahaya pertama yang menyambut mereka—sebuah tangan yang terulur saat pintu-pintu lain tertutup.Setiap hari, lebih dari 600 warga berdatangan. Ada yang baru tiba setelah menelusuri berbagai daerah mencari keluarga yang belum ditemukan, ada pula yang bertahan kerana tidak tahu lagi harus melangkah ke mana. Mereka datang dari Bener Meriah, Aceh Tengah, dan berbagai wilayah lain, membawa cerita yang sama: kehilangan dan harapan yang masih digantungkan kepada Allah.Di antara gema azan dan doa-doa lirih yang terdengar dari sudut-sudut masjid, dapur umum itu menjadi alasan mereka tetap mampu berdiri. Sepiring nasi hangat yang dibagikan bukan sekadar makanan—itu adalah pesan bahawa mereka tidak sedang menghadapi bencana ini sendirian. Ada seseorang yang memikirkan mereka, seseorang yang peduli saat dunia terasa runtuh.Tidak berhenti sampai di situ, Haji Subarni juga menyalurkan 800 sak beras ke wilayah-wilayah yang paling terdampak banjir di Kabupaten Bireuen: Kuta Blang, Peusangan Siblah Krueng, Juli, dan pada 1 Desember 2025, bantuan kembali dihantar ke Peudada, tempat banyak keluarga yang masih menanti uluran tangan.Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas, Arizal Mahdi, menyampaikan penghargaan yang mendalam atas ketulusan tersebut.“Di saat rakyat kebingungan mencari tempat berlindung, Allah menggerakkan hati Haji Subarni untuk hadir bersama mereka. Ini bukan sekadar bantuan—ini adalah kasih sayang yang menjaga maruah manusia,” ujar Arizal.Arizal menegaskan bahawa dapur umum ini akan terus beroperasi hingga seluruh warga dapat kembali ke rumah masing-masing, hingga tidak ada lagi satu pun warga yang terjebak di Kota Bireuen dan harus menahan lapar di tengah bencana.Di Aceh pasca banjir, ketika banyak keluarga masih terpisah dan banyak kisah belum menemukan ujungnya, tindakan Haji Subarni mengingatkan kita bahawa di tengah dunia yang semakin berat, kemanusiaan tetap hidup—dan ia bersinar paling terang di tangan orang yang tulus.Detik Peristiwa