Banda Aceh – detikperistiwa.co.id
Kekhawatiran mengenai iklim investasi di Aceh kembali mencuat. Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas, Arizal Mahdi, menyuarakan keresahan yang dirasakan banyak tokoh masyarakat atas meningkatnya ketegangan antara sebagian kelompok warga dengan perusahaan-perusahaan lokal, khususnya di sektor perkebunan.
Beberapa tahun terakhir, sejumlah kabupaten dan kota di Aceh terus diwarnai pemblokiran jalan, keributan, serta aksi sepihak dari segelintir oknum yang menekan perusahaan. Dampaknya tidak main-main. Ratusan pekerja yang menggantungkan hidup dari kebun sawit kehilangan pendapatan mereka. Para petani kecil tak lagi bisa bekerja normal. Roda ekonomi desa terhenti.
Menurut Arizal, jika situasi seperti ini terus berulang, bukan hanya investor baru yang enggan datang, tetapi investor lokal pun bisa memilih meninggalkan Aceh demi keamanan usaha mereka. Ia menegaskan bahwa ketika iklim usaha dianggap tidak bersahabat dan penuh tekanan, yang paling terdampak justru rakyat kecil yang hidup dari upah harian.
Ia menambahkan bahwa buruh kebun, supir angkutan, petani kecil, hingga pekerja lapangan adalah kelompok pertama yang merasakan pukulan paling berat. Mereka tidak mencari konflik, mereka hanya ingin bekerja dan mendapat penghasilan yang layak untuk keluarga.
Arizal mengajak Aceh belajar dari Vietnam, negara yang dalam dua dekade terakhir berubah menjadi salah satu tujuan investasi terkuat di Asia. Kesuksesan Vietnam bukan datang tiba-tiba, tetapi hasil dari strategi panjang yang konsisten dan fokus pada kemudahan investasi.
Pemerintah Vietnam menyederhanakan prosedur usaha, mempercepat perizinan, dan membuka layanan digital agar investor tidak terbentur birokrasi yang menghambat. Berbagai insentif pajak diberikan bagi sektor teknologi tinggi, ekspor, dan daerah berkembang. Mereka membangun zona ekonomi khusus dengan infrastruktur terencana, listrik stabil, dan layanan administrasi yang cepat.
Vietnam juga fokus menarik investasi high-tech seperti semikonduktor, AI, baterai, dan energi hijau. Mereka aktif memperkuat kerja sama perdagangan lewat berbagai perjanjian internasional untuk membuka pasar yang lebih luas. Di saat yang sama, kualitas sumber daya manusia mereka terus ditingkatkan agar kompatibel dengan industri tinggi.
Tidak hanya itu, Vietnam menjaga stabilitas kebijakan, menegakkan perlindungan investor, dan menciptakan kompetisi sehat antar provinsi dalam menarik investasi. Daerah-daerah berlomba membangun infrastruktur, memberikan fasilitas lahan, dan memperbaiki layanan publik agar perusahaan merasa aman dan dihargai.
Arizal menilai pendekatan tersebut sangat relevan untuk Aceh. Membangun kepercayaan investor bukan hanya tugas pemerintah provinsi, tetapi juga pemerintah kabupaten, aparatur desa, serta lembaga penegak hukum. Ia menyerukan agar pemerintah lokal bekerja lebih erat dengan aparat penegak hukum untuk memastikan keamanan investor serta menjamin kegiatan usaha tidak terhalang oleh ancaman, intimidasi, atau aksi sepihak.
Menurutnya, menjaga investor bukan berarti memihak perusahaan, tetapi memihak keberlangsungan hidup rakyat kecil yang mengandalkan sektor usaha untuk bertahan. Setiap gangguan terhadap perusahaan pada akhirnya akan kembali melukai masyarakat yang bekerja di dalamnya.
Sebagai aktivis kemanusiaan yang sering turun ke lapangan, Arizal menyaksikan langsung bagaimana para buruh kebun dan keluarga mereka menggantungkan masa depan pada stabilitas perusahaan tempat mereka bekerja. Ketika terjadi blokir jalan atau keributan, penghasilan mereka langsung hilang.
Ia berharap Aceh bisa menjadi tanah yang ramah bagi investasi dan aman bagi pekerja. Menurutnya, Aceh memiliki potensi besar seperti Vietnam: sumber daya alam melimpah, generasi muda yang cerdas, dan peluang sektor agraria serta agroindustri yang luar biasa. Namun potensi itu tidak akan berkembang tanpa jaminan keamanan.
Arizal menutup seruannya dengan pesan yang tegas. Jika Aceh ingin maju, kata dia, Aceh harus menjaga ketenangan, bekerja sama melindungi investasi, dan memastikan rakyat kecil tidak menjadi korban akibat tindakan segelintir pihak. Ia mengingatkan bahwa kemajuan tidak datang dari konflik, tetapi dari kerja sama dan rasa aman yang dipegang bersama.
Detik Peristiwa




