Bireuen – detikperistiwa.co.id
Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas, Arizal Mahdi, menyampaikan pandangannya terkait sejumlah produk Bank Syariah Indonesia (BSI) yang menurutnya belum sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai syariat Islam secara substansial. Ia menilai bahwa beberapa produk perbankan syariah masih bersifat simbolik dan belum menyentuh prinsip keadilan serta transparansi yang menjadi inti maqashid syariah.
“Kami melihat praktik pembiayaan murabahah yang dijalankan masih menyerupai skema kredit konvensional, di mana bank tidak benar-benar memiliki barang terlebih dahulu, namun mengambil margin tetap layaknya bunga,” ungkap Arizal.
Ia juga menyinggung skema Musyarakah Mutanaqisah dan Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik, khususnya pada sektor pembiayaan rumah, yang menurutnya hanya mengganti istilah namun tetap memberatkan rakyat kecil dalam praktiknya.
“Rakyat butuh perbankan syariah yang berpihak pada keadilan, bukan sekadar mengganti istilah bunga menjadi margin atau bagi hasil. Banyak masyarakat akhirnya terjebak dalam skema pembiayaan yang rumit dan tidak transparan,” jelasnya.
Arizal menyerukan agar Dewan Pengawas Syariah (DPS) lebih aktif mengevaluasi produk-produk yang ditawarkan dan memastikan agar implementasi syariah tidak hanya formalitas, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama kalangan ekonomi lemah.
Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas mendukung dilakukan audit independen dan keterlibatan ulama fiqih muamalah yang murni untuk menilai kembali praktik perbankan syariah yang berlaku di Indonesia.
“Kita butuh sistem keuangan syariah yang tidak hanya halal secara akad, tapi juga adil secara praktik,” pungkas Arizal.
Disclaimer: Pernyataan ini merupakan opini pribadi Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas dan belum tentu mencerminkan kondisi faktual seluruh produk BSI secara keseluruhan. Hingga berita ini diterbitkan, pihak Bank Syariah Indonesia belum memberikan tanggapan resmi terkait pandangan tersebut.
Detik Peristiwa


