
Penulis: Ahmad/ Mujihartono
Polda Jateng: Tilang Hanya untuk Pelanggaran yang Membahayakan dalam Operasi Patuh Candi 2025
Semarang, 18 Juli 2025 — Penindakan dalam Operasi Patuh Candi 2025 oleh Polda Jawa Tengah tidak dilakukan secara kaku. Dalam apel pengarahan, AKBP Christoper Adhikara Lebang menekankan bahwa pendekatan humanis harus dikedepankan.
Pelanggaran lalu lintas tidak semua langsung ditilang. Prioritas penindakan hanya diberikan pada pelanggaran berat yang membahayakan keselamatan, sementara pelanggaran ringan cukup diberi teguran dan edukasi.
AKBP Lebang juga meminta agar petugas menunjukkan empati terhadap lansia, penyandang disabilitas, dan pelajar, serta menghindari tindakan yang bisa menimbulkan trauma, terutama bagi anak-anak.
“Ketegasan harus tetap berpijak pada hati nurani,” ujarnya.
Lanjut
Tidak Semua Pelanggaran Ditilang Selama Ops Patuh; Prioritas pada Yang Membahayakan Keselamatan
Penegakan hukum dalam Operasi Patuh Candi 2025 tidak dilakukan secara kaku dan tanpa empati. Hal itu menjadi penekanan utama dalam apel pengarahan yang dipimpin oleh Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Jateng, AKBP Christoper Adhikara Lebang pada Jumat pagi, (18/7/2025) di halaman Mako Ditlantas Polda Jateng.
Dalam arahannya, AKBP Lebang menegaskan bahwa meskipun fokus utama operasi adalah penegakan hukum, namun seluruh personel harus mengedepankan pendekatan yang humanis dalam setiap tindakan. Ia meminta agar penindakan dilakukan secara selektif dan proporsional.
“Jangan semua pelanggaran dipukul rata diberi surat tilang. Prioritaskan pelanggaran berat yang membahayakan keselamatan. Sementara untuk pelanggaran ringan, cukup diberi teguran dan edukasi,” tegasnya di hadapan personel Satgas Operasi Patuh Candi 2025.
Kasubdit Gakkum juga mengingatkan agar para petugas memiliki kepekaan terhadap kondisi pelanggar, terutama para lansia dan penyandang disabilitas yang bisa mengalami kesulitan jika harus mengurus tilang. Termasuk pula saat menemukan pelanggaran yang dilakukan oleh pelajar, upaya pembinaan dan edukasi harus dikedepankan agar tidak menimbulkan trauma terhadap sosok polisi.
“Ketegasan kita harus tetap dilandasi dengan hati nurani. Jangan sampai niat menegakkan aturan justru membuat masyarakat takut, terutama anak-anak,” imbuhnya.
Sumber: DivHumas Polda Jateng