Taput – detikperistiwa.co.id
Seorang pasien bernama Marulak Purba (46), warga Desa Sitampurung, Kecamatan Siborongborong, Tapanuli Utara, menjalani dua kali operasi di RSU Daerah Tarutung setelah didiagnosis peritonitis. Namun bukannya membaik, kondisi Marulak justru semakin memburuk hingga kini seperti lumpuh dan tidak mampu berjalan. Keluarga mempertanyakan transparansi prosedur medis yang dijalankan pihak rumah sakit.
Pada Sabtu, 4 Mei 2025, sekitar pukul 17.30 WIB, Marulak mengeluhkan perut kembung dan sakit perih. Ia dibawa ke Puskesmas Siborongborong, namun hanya diperiksa singkat oleh bidan, dipasang infus, lalu dipulangkan meski masih kesakitan. Tak lama kemudian, pihak Puskesmas merujuk Marulak ke RSUD Tarutung tanpa observasi lanjutan.
Setibanya di RSUD, dokter spesialis bedah menyatakan lambung pasien bocor dan harus segera dioperasi. Operasi pertama dinyatakan gagal, sehingga dilakukan operasi kedua. Namun kondisi pasien justru semakin memburuk hingga kini tidak bisa berjalan dan masih kerap merasakan panas serta nyeri di bagian perut.
“Kami ingin tahu apakah tindakan medis itu sudah sesuai prosedur. Kalau ada risiko besar kenapa tidak dijelaskan? Kami curiga ada kelalaian,” ujar keluarga Marulak. Mereka meminta agar kasus ini dikawal media dan menjadi perhatian pemerintah daerah demi terciptanya layanan kesehatan yang transparan dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Kepala UPT Puskesmas Siborongborong, dr. Lamtiur Lumbantoruan, saat dikonfirmasi wartawan mengatakan: “Itu kan kasus lama, bahkan sempat viral di Facebook. Dari sisi Puskesmas, kami sudah sesuai prosedur dengan memberikan rujukan ke RSUD Tarutung. Selanjutnya menjadi tanggung jawab pihak rumah sakit,” jelasnya.
Menanggapi persoalan ini, Bupati Tapanuli Utara, Dr. Jonius Taripar Hutabarat, SSi, MSi, merespons singkat: “Ok, kami segera tindak lanjuti.”
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen RSUD Tarutung belum berhasil dihubungi untuk memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan kelalaian maupun kondisi terkini pasien.
Marulak sendiri berharap pihak rumah sakit memberikan perhatian serius. “Saya hanya ingin sembuh. Rasanya perhatian dari rumah sakit kurang,” tuturnya lirih.
Sementara itu, keluarga mendesak pemerintah daerah benar-benar serius mengawal agar kasus serupa tidak terulang pada pasien lain.
Laporan: L. Tamp
detikperistiwa.co.id