Semarang – detikperistiwa.co.id
Ruang pertemuan Kantor Urusan Agama (KUA) Gunungpati pagi itu, Senin, 20 Januari, tak hanya dipenuhi wejangan religius. Agenda Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang biasanya formal berubah menjadi ruang edukasi medis yang cair. Hadirnya para akademisi dari STIKES Semarang dan tenaga medis Puskesmas membawa pesan krusial bagi para calon pengantin: bahwa rumah tangga yang kokoh bermula dari rahim dan pola makan yang sehat.
Isu kesehatan reproduksi menjadi sorotan utama.
Luluk Hilda Kusumarini, dosen STIKES Semarang, mengingatkan para calon ibu untuk mulai “berpuasa” dari makanan instan. Pesannya lugas: jauhi minuman kaleng dan mulailah memusuhi MSG (penyedap rasa).
“Ganti dengan buah atau sayur. Hal-hal kecil ini menentukan kualitas sel telur kita. Jangan sampai ia tak berkembang hanya karena gaya hidup,” ujar Luluk. Di hadapannya, para calon pengantin menyimak sembari mencatat, menyadari bahwa persiapan nikah bukan sekadar urusan dekorasi pelaminan.
Namun, ketegangan materi medis itu segera mencair. Di tengah sesi, seluruh peserta diajak melakukan “Tepuk Sakinah” yang tengah viral di media sosial.
Tepukan berirama ini tidak hanya memecah keheningan, tapi juga menjadi simbol keceriaan dan komitmen bersama untuk membangun keluarga yang harmonis. Suasana menjadi riuh rendah, tawa pecah di antara para calon mempelai, seolah menegaskan bahwa membangun rumah tangga bisa dimulai dengan cara yang menyenangkan.
Investasi Mental dan Kejujuran
Di luar urusan fisik, kesehatan mental juga dibedah. Tim dosen yang terdiri dari Mirza Fathan Fuadi, Christina Ary Yuniarti, hingga Sri Wahyuni Ningsih, menekankan bahwa pikiran negatif adalah racun bagi aspek psikis pasangan. Edukasi mengenai Jaminan Kesehatan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi kurikulum wajib dalam pengabdian masyarakat tersebut.
Dari sisi spiritual, Laylatul Undasah, penyuluh dari KUA Gunungpati, menyoroti dinamika ekonomi keluarga modern. Ia menekankan pentingnya kejujuran di atas segalanya. “Istri boleh saja mencari nafkah, asalkan tanggung jawab masing-masing tetap terjaga,” tuturnya. Menurutnya, sakinah mawaddah warahmah adalah buah dari pengertian yang dipupuk setiap hari.
M. Isa Anniffari, salah satu peserta, mengaku sangat terkesan dengan keragaman materi ini. “Sangat senang. Pengetahuan kami jadi luas, mulai dari urusan kesehatan sampai bagaimana cara membangun keharmonisan,” kata Isa.
Meski sesi kesehatan reproduksi dari Puskesmas berlangsung singkat, pesan besarnya tersampaikan: bahwa pernikahan yang sehat membutuhkan kesiapan lahir dan batin. Lewat perpaduan sains, agama, dan tren populer seperti Tepuk Sakinah, KUA Gunungpati sedang menyiapkan fondasi generasi masa depan dari meja bimbingan.
=========
Pram


