Tebat Bengkuang Sejarah Kulong Minyak Manggar Belitung Timur
Dahulu sekali sebelum tebat bengkuang menjadi kulong minyak, Sebelum masuknya kolonial, Tebat Bengkuang digunakan oleh masyarakat lokal untuk mandi, mencuci pakaian, dan membersihkan diri.
Airnya juga digunakan untuk mengairi sawah dan kebun di sekitar.
Tebat Bengkuang menjadi tempat memancing ikan bagi masyarakat sekitar.
Dan juga digunakan sebagai tempat ritual adat dan upacara keagamaan oleh masyarakat lokal.
Tebat Bengkuang adalah nama yang berasal dari bahasa Melayu Belitung, di mana “Tebat” berarti “kolam” atau “danau”, dan “Bengkuang” adalah nama tanaman air yang tumbuh di sekitar kolam atau danau tersebut.
Jadi, Tebat Bengkuang dapat diartikan sebagai “Kolam Bengkuang” atau “Danau Bengkuang”, yang merujuk pada sebuah kolam atau danau yang dikelilingi oleh tanaman bengkuang.
Tebat Bengkuang, yang kini dikenal sebagai Kulong Minyak, memiliki sejarah panjang sebagai salah satu tambang timah paling kaya di Belitung Timur. Dibuka pada tahun 1865 oleh NV Billiton Maatschappij, tambang ini menghasilkan 414.972 pikul bijih timah hingga tahun 1925.
Nama “Tebat Bengkuang” berasal dari tumbuhan mengkuang yang tumbuh di sekitar kolong ini. Namun, seiring waktu, nama tersebut berubah menjadi Kulong Minyak karena kolong ini digunakan sebagai sumber air dan tempat pembuangan limbah sentral listrik EC, sehingga airnya tampak berminyak.
Kulong Minyak telah bertransformasi menjadi destinasi wisata yang menarik, menawarkan keindahan alam, edukasi sejarah, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Pemerintah Kabupaten Belitung Timur terus mengembangkan kawasan ini sebagai objek wisata sejarah dan budaya.
25 Januari 2026.
Jurnalis Detikperistiwa.
Suhartono.saidi khahar
Pitoytsl.


