Sidoarjo – detikperistiwa.co.id
Peringatan Hari Jadi ke-167 Kabupaten Sidoarjo digelar melalui rangkaian kegiatan sosio-kultural yang sarat nilai tradisi dan semangat gotong royong masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari penyambutan bulan suci Ramadhan. Salah satu kegiatan utama berlangsung di Lapangan Desa Sedengan Mijen, Kecamatan Krian, yang dipadati ribuan warga.
Ikon utama dalam peringatan tersebut adalah tumpeng tempe raksasa setinggi sekitar 13–14 meter. Tumpeng yang terbuat dari sekitar tiga kuintal kedelai ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus identitas Desa Sedengan Mijen sebagai sentra penghasil tempe.
Prosesi perebutan potongan tumpeng tempe pun berlangsung meriah, dengan keyakinan masyarakat bahwa tempe tersebut membawa berkah bagi yang mendapatkannya.
Selain tumpeng tempe raksasa, acara juga dimeriahkan dengan 31 tumpeng hasil bumi yang berasal dari masing-masing RT. Beragam hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan disajikan dan diperebutkan warga, menambah semarak suasana kebersamaan dan kegembiraan.
Camat Krian menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat Desa Sedengan Mijen atas partisipasi aktif dalam menjaga dan melestarikan tradisi budaya lokal. Menurutnya, kegiatan sedekah tumpeng tempe ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata daerah apabila terus dilestarikan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Desa Sedengan Mijen menegaskan bahwa sedekah tumpeng tempe bukan sekadar agenda tahunan, melainkan wujud nyata rasa syukur masyarakat. Ia juga mengungkapkan rasa syukur karena seluruh rangkaian kegiatan ruwat desa dapat berjalan dengan lancar dan penuh kebersamaan.
“Kegiatan ini menjadi sarana untuk mempererat persatuan warga serta menjaga warisan budaya leluhur,” ujarnya. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada panitia dan seluruh pihak yang telah bekerja keras menyukseskan acara.
Rangkaian ruwat desa sebelumnya telah diisi dengan berbagai kegiatan, antara lain istighosah, barikan Khotmil Qur’an, pagelaran wayang kulit, hingga pasar jajanan tradisional. Puncak acara ditandai dengan doa bersama dan prosesi perebutan tumpeng di lapangan desa, dengan antusiasme warga yang tetap tinggi hingga kegiatan berakhir.
Tradisi tumpeng tempe raksasa ini terus menjadi agenda tahunan yang dinantikan masyarakat Sedengan Mijen dan menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal yang patut dijaga dan dilestarikan.(Luqman)


