Semarang – detikperistiwa.co.id
Ruang aula di Rumah Dinas Walikota Semarang di Jalan Abdurrahman Saleh mendadak riuh, Senin, 9 Februari 2026.
Sebanyak 597 abdi negara di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kota Semarang berkumpul, bukan sekadar untuk seremoni, melainkan untuk menerima “bekal ulang” mengenai makna pengabdian.
Kepala Kanwil Kemenag Jawa Tengah, H.Saiful Mujab, hadir dengan pesan yang menohok nurani para bawahannya. Ia menggunakan metafora ibadah haji, “Salah Miqot”, untuk menggambarkan fenomena ASN yang menerima hak penuh namun abai terhadap kewajiban.
“Tatkala kita memilih menjadi ASN, kita sudah mewakafkan diri kepada negara. Jangan sampai gaji dan fasilitas sudah di tangan, tapi kinerja justru nihil. Itu namanya salah miqot,” ujar Saiful di hadapan barisan guru, penghulu, hingga pejabat struktural.
Bagi Saiful, bekerja di Kementerian Agama adalah tugas ganda. Selain menjalankan mesin birokrasi, para pegawai ini dianggap mengemban misi “kerosulan”. Di tangan mereka, wajah toleransi dan moderasi beragama dipertaruhkan. Sebuah tanggung jawab moral yang melampaui sekadar administrasi absensi.
Jumat Bersih di Bantaran Sungai

H.Muhtasit selaku kakankemenag kota Semarang mengatakan bahwa, agenda pembinaan ini juga menjadi panggung apresiasi bagi program KASIH (Kebersihan Sungai Iman Harmoni).
Ini adalah eksperimen kolaborasi antara Kemenag dan Pemerintah Kota Semarang yang membawa para penyuluh agama dan guru turun ke lumpur Sungai, dan ini sudah dilakukan 2 kali di setiap Jumat, dan yang ketiga kali dihari Jumat besok ditanggal 13 Februari.
Setelah menyisir area dari Jembatan Thamrin hingga Wotgandul, berikutnya di kawasan Kimangunsarkoro. Bagi Kakankemenag Kota Semarang, gerakan ini adalah perwujudan iman yang paling konkret: menjaga ekologi kota.
Kepala Subbagian Tata Usaha Kemenag Kota Semarang, H.Dony Aldise Harahap, menyebut penguatan kapasitas ini mutlak dilakukan. “Kami ingin memastikan energi yang sama juga mengalir dalam pelayanan di KUA dan ruang-ruang kelas madrasah,” kata Dony.
Kedekatan antara Kemenag dan Pemkot Semarang memang bukan rahasia baru.
Pemanfaatan fasilitas aula walikota hingga pelaksanaan Hari Amal Bhakti di halaman balai kota menjadi sinyal kuat betapa mesranya hubungan dua institusi ini. Di Semarang, urusan agama dan urusan kota tampaknya memang sedang berjalan di atas rel yang sama.
————-
Pram


