Krisis Air Bersih di Pintu Rime Gayo, Warga Desak Realisasi Pipanisasi Berkelanjutan

Bener Meriah – detikperistiwa.co.id

Krisis akses air bersih masih menjadi persoalan mendasar bagi warga di sejumlah desa di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah. Aspirasi tersebut kembali mengemuka pada Sabtu (7/2/2026), ketika masyarakat menyuarakan harapan agar pembangunan sistem pipanisasi air bersih segera mendapat perhatian serius dari pemerintah dan pemangku kepentingan terkait.

Keterbatasan infrastruktur distribusi menyebabkan sumber mata air yang tersedia belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Air yang berada di titik sumber belum terhubung ke permukiman warga akibat belum tersedianya jaringan pipanisasi yang memadai.

“Air tersedia di sumber, namun belum bisa dialirkan ke rumah-rumah karena belum ada jaringan pipa yang layak,” ujar salah seorang warga setempat.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada kebutuhan konsumsi rumah tangga, sanitasi, hingga kebersihan lingkungan. Pada musim kemarau, situasi semakin rentan karena debit air menyusut sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi. Dalam beberapa kasus, keterbatasan akses memicu ketegangan sosial akibat perebutan jalur distribusi air.

Situasi ini dinilai semakin kompleks dalam konteks pascabencana banjir dan longsor yang sebelumnya melanda sejumlah wilayah di Aceh. Kerusakan lingkungan dan terganggunya tata kelola sumber daya air memperlihatkan pentingnya pembangunan infrastruktur yang tidak hanya bersifat sementara, tetapi terencana dan berkelanjutan.

Masyarakat berharap adanya dukungan konkret dari Pemerintah Kabupaten Bener Meriah, Pemerintah Provinsi Aceh, sektor swasta, serta lembaga sosial untuk merealisasikan sistem pipanisasi air bersih yang terintegrasi, tepat sasaran, dan berbasis kebutuhan lokal.

Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas, Arizal Mahdi, menegaskan bahwa akses air bersih merupakan hak dasar masyarakat yang tidak boleh tertunda, terlebih di wilayah dengan karakteristik geografis berbukit seperti Pintu Rime Gayo.

“Krisis air bersih bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menyangkut kesehatan publik, stabilitas sosial, dan kualitas hidup masyarakat. Pasca banjir dan longsor, momentum ini harus dimanfaatkan untuk membangun sistem distribusi air yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan kolaboratif lintas sektor menjadi kunci percepatan penyediaan infrastruktur dasar. Ia mendorong adanya perencanaan terpadu yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, dan organisasi sosial agar solusi yang dihasilkan tidak bersifat jangka pendek.

Secara geografis, Kecamatan Pintu Rime Gayo yang berada di kawasan dataran tinggi memerlukan desain teknis pipanisasi yang menyesuaikan kontur wilayah serta mempertimbangkan keberlanjutan sumber air. Tanpa intervensi terstruktur, krisis serupa berpotensi berulang setiap musim kemarau.

Kini, harapan masyarakat tertuju pada langkah nyata dan terukur agar hak atas air bersih sebagai kebutuhan dasar dapat terpenuhi secara adil dan berkelanjutan.

Detik Peristiwa