Dapur yang Mengebul, Bumi yang Terawat: Ikhtiar “Pajero” dan “Klangenan” di Kota Atlas

Semarang – detikperistiwa.co.id

Di tengah keriuhan kota yang bersiap menyambut bulan suci, ada kecemasan yang merayap di sela-sela gang sempit. Bagi mereka yang hidup di garis retak ekonomi, Ramadhan sering kali datang dengan beban ganda: rindu pada kekhusyukan ibadah, namun gentar pada harga pangan yang kian tak terjangkau.

Di Semarang, sekelompok penyuluh agama mencoba membasuh kegelisahan itu dengan cara yang paling purba: berbagi isi dapur melalui program PAJERO (Paket Jelang Romadhon).

Gugatan di Balik Piring yang Kosong

Kisah ini berakar pada tahun 2011. Seorang penyuluh agama di Kementerian Agama Kota Semarang tertegun saat mendengar keluhan jujur seorang warga yang menghujam nurani: “Bagaimana kami bisa bersuka cita menyambut Ramadhan, jika untuk makan hari ini saja sulit?”

Kalimat itu menjadi pemantik kesadaran bahwa dakwah tak boleh hanya menggema di pengeras suara masjid, ia harus mewujud di atas meja makan. Maka, lahirlah PAJERO—bukan kendaraan mewah yang meluncur di jalanan protokoler, melainkan “amunisi” sahur bagi kaum dhuafa: beras, telur, minyak goreng, hingga bumbu dapur seperti bawang merah dan putih.

“Suka cita harus dirasakan secara fisik, bukan sekadar slogan di spanduk jalanan,” ungkap salah satu penggerak program tersebut.

KLANGENAN: Merawat Pangan, Menjaga Lingkungan

Kemenag Kota Semarang memahami bahwa bantuan sosial tidak boleh berhenti pada aksi karitatif. Di sinilah KLANGENAN (Kemenag Peduli Pangan dan Lingkungan) mengambil peran sebagai roh jangka panjang.

Jika PAJERO adalah tangan yang mengulurkan bantuan saat genting, maka KLANGENAN adalah langkah nyata membangun ketahanan pangan dari akar rumput. Melalui program ini, para penyuluh mengajak masyarakat untuk tidak sekadar menjadi konsumen, tetapi juga penjaga ekosistem.

Memanfaatkan pekarangan, mencintai lingkungan, dan memastikan bumi tetap lestari agar kedaulatan pangan bukan sekadar mimpi di tengah beton perkotaan.

Gerilya di Enam Belas Kecamatan

Jumat, 13 Februari, kesibukan itu kembali memuncak di kantor Kemenag Kota Semarang. Seratus paket PAJERO telah berjajar rapi, siap diberangkatkan menuju 16 kecamatan.

Sasarannya tajam: para janda tua dan fakir miskin yang kerap luput dari radar bantuan besar.
Muis, penyuluh dari KUA Ngaliyan, memandang integrasi ini sebagai bentuk kehadiran negara yang utuh.

“Harapannya tentu langgeng. Dengan napas KLANGENAN, kita ingin bantuan ini bertransformasi dari sekadar pemberian menjadi pemberdayaan lingkungan yang berkelanjutan,” ujarnya dengan nada optimis.

Melawan Lupa di Tengah Inflasi

Apa yang membuat gerakan ini istimewa bukanlah kemewahan isinya, melainkan ketangguhannya “Pajero” selama ini menghadapi pasang-surut donatur. Gerakan ini telah tumbuh menjadi komitmen kolektif para penyuluh agama di Kota Atlas untuk melawan lupa pada mereka yang lemah.

Di tengah bayang-bayang inflasi musiman, 100 paket sembako ini mungkin tidak menghapus kemiskinan secara struktural. Namun, melalui sinergi antara kepedulian pangan dan pelestarian lingkungan, para janda dan kaum papa di Semarang setidaknya tahu: mereka tidak sedang menyambut bulan suci sendirian.
______
Pram