Kendal – detikperistiwa.co.id
Aula Desa Sumber Rahayu, Limbangan, sore itu mendadak senyap. Bukan karena tak ada orang, melainkan karena khusyuk yang menyelimuti ratusan pasang mata yang hadir. Jumat (28/2), di bawah langit Kendal yang beranjak temaram, Thoriqoh Shidiqiyyah menggelar hajatan kemanusiaan: santunan bagi anak yatim dan kaum dhuafa.
Acara ini bukan sekadar seremoni formal. Ada penegasan identitas yang kuat di sana. “Ini Thoriqoh Shidiqiyyah, bukan Ashidiqiyyah,” ujar Bachtiar Efendy, Kepala Desa Sumber Rahayu yang juga menjadi tuan rumah sekaligus saksi sejarah pertama kalinya organisasi ini menggelar kegiatan di desanya.
Ada yang unik dari dapur penyelenggaraan ini. Di tengah tren organisasi yang kerap mengandalkan proposal sponsor, Shidiqiyyah memilih jalan sunyi yang mandiri. Seluruh “ubo rampe” atau perlengkapan kegiatan—mulai dari konsumsi hingga isi amplop santunan—berasal murni dari kantong para pengurus dan anggota. Sebuah kristalisasi dari konsep iuran yang berubah menjadi manfaat nyata.
Ujian Kesabaran di Kegelapan
Malam itu suasana sempat diuji. Saat rangkaian acara sedang mencapai puncaknya, aliran listrik tiba-tiba terputus. Aula menjadi gelap. Namun, bukannya riuh oleh keluhan, para tamu dan peserta justru tetap bergeming. Semangat berbagi seolah menjadi generator alami yang menjaga suhu antusiasme tetap tinggi. Kegelapan tak sanggup memadamkan niat baik.

Sebanyak 40 penerima manfaat, yang terdiri dari 30 warga asli Sumber Rahayu dan 10 warga desa tetangga, pulang dengan gurat senyum. Masing-masing memeluk paket sembako senilai Rp100.000 dan uang tunai dengan jumlah serupa. Bagi mereka, bantuan ini adalah oase di tengah himpitan ekonomi yang kian mencekik.
Lebih dari Sekadar Santunan
Bagi Hendy, yang juga salah satu anggota Thoriqoh Shidiqiyyah, mengekspresikan rasa syukur tak boleh berhenti pada lisan. Syukur harus mewujud dalam gerak fisik, entah itu melalui peringatan kemerdekaan, hari besar agama, hingga aksi bedah rumah bagi mereka yang kurang beruntung maupun kegiatan santunan.
“Dengan adanya kegiatan tersebut, tentu menjadi kebanggaan bagi kami bisa menyelenggarakannya,” ungkap Bachtiar Efendy dengan nada haru. Ia berharap, kegiatan ini tak berhenti sebagai noktah sekali jalan, melainkan menjadi rutinitas yang mampu menggerus kesenjangan sosial di wilayahnya.
Malam pun jatuh di Limbangan. Listrik mungkin sempat padam, namun bagi warga Sumber Rahayu, ada cahaya lain yang baru saja dinyalakan dari dalam aula desa: cahaya kepedulian yang dikelola dengan mandiri dan penuh khidmat.
=========
Pram


