“Tanoh Anoe Jangka, Sentra Penghasil Garam Terbesar di Aceh: Petani Harapkan Dukungan Modal dan Pembinaan Pemerintah”

 

Bireuen – Detikperistiwa.co.id

Gampong Tanoh Anoe, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen dikenal sebagai salah satu sentra penghasil garam dapur terbesar di Aceh. Puluhan bahkan ratusan warga di desa tersebut menggantungkan hidupnya sebagai petani garam tradisional.

Tgk Zamri dan Tgk Zulkarnaini, warga Gampong Tanoh Anoe, kepada jurnalis Kamis (2/3/2026), menyampaikan bahwa produksi garam dari desa mereka merupakan yang terbesar di Aceh. Garam hasil produksi tersebut dipasarkan hingga ke berbagai wilayah di Provinsi Aceh.

Namun demikian, para petani garam mengaku masih menghadapi berbagai kendala, terutama keterbatasan modal usaha. Karena itu mereka berencana mengajukan permohonan bantuan modal kepada Pemerintah Kabupaten Bireuen guna mendukung keberlangsungan usaha mereka.

Zulkarnaini menjelaskan, proses produksi garam di Tanoh Anoe masih dilakukan secara tradisional. Tahap awal dilakukan dengan membuat tungku untuk memasak air bibit garam menggunakan plat besi yang biasanya dipakai sebagai bahan dinding mobil, dengan ukuran sekitar 3 x 4 meter.

Air garam diperoleh dari sumur yang sengaja digali di dekat dapur garam. Gubuk dapur berukuran sekitar 5 x 7 meter biasanya ditutup dengan atap rumbia atau seng. Proses memasak air garam menggunakan kayu bakar hingga menjadi garam membutuhkan waktu sekitar enam jam.

Dalam satu dapur, produksi garam dapat mencapai sekitar 50 kilogram. Jika ditekuni secara serius, seorang ibu rumah tangga petani garam bisa memperoleh penghasilan hingga Rp160 ribu per hari, meskipun jumlah tersebut dianggap sebagai hasil maksimal.

Salah seorang pengrajin garam, Jamaliah, mengatakan usaha tersebut sangat membantu perekonomian keluarga. Dari hasil produksi garam, mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari hingga membiayai pendidikan anak-anak, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Ia menambahkan, para pedagang biasanya datang langsung ke lokasi untuk mengambil garam yang sudah siap panen. Selanjutnya garam produksi Tanoh Anoe dipasarkan ke berbagai daerah di Provinsi Aceh.

Terkait bantuan pemerintah, warga mengaku pernah menerima bantuan setelah musibah tsunami berupa pembangunan gubuk sederhana. Namun setelah itu, hingga saat ini belum ada lagi bantuan lanjutan, baik berupa modal usaha, pelatihan maupun pembinaan bagi para petani garam.

Camat Jangka, Muliyadi, yang hendak dikonfirmasi belum dapat ditemui. Namun menurut staf kantor camat, seluruh petani garam di Tanoh Anoe sudah terdata dan jumlahnya mencapai ratusan orang.

Menurut staf tersebut, para pengrajin garam sangat membutuhkan dukungan pemerintah untuk meningkatkan produksi sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat.

Para petani garam di Tanoh Anoe telah menjalankan profesi ini secara turun-temurun selama puluhan tahun. Mereka berharap adanya perhatian dari pemerintah pusat, pemerintah Provinsi Aceh, maupun Pemerintah Kabupaten Bireuen dalam bentuk bantuan modal, pelatihan, serta pembinaan.

Jamaliah menyebutkan, selain modal kerja, mereka juga membutuhkan bantuan pembangunan gubuk produksi baru berukuran sekitar 8 x 7 meter, karena sebagian bangunan lama sudah rusak dimakan usia.

Selain itu, untuk memasak air bibit garam dibutuhkan tungku dari plat besi berukuran sekitar 1,5 x 1,7 meter yang mampu menghasilkan sekitar 50 kilogram garam dapur putih setiap kali produksi.

Dengan adanya dukungan permodalan dan pembinaan dari pemerintah, para petani garam di Tanoh Anoe berharap usaha tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut dapat terus berkembang dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

(Erna)

Hayo mau copy paste ya?