Eksistensi HMI/KAHMI dan Peran Kader dalam Membangun Indonesia

Batam – detikperistiwa.co.id

Perbincangan bersama Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., Anggota DPR RI Komisi IV, mengenai eksistensi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) memberikan ruang refleksi tentang arti pengabdian, perjuangan, dan tanggung jawab kader terhadap bangsa. Dalam perbincangan tersebut, tersirat rasa syukur dan terima kasih atas kesempatan menjadi bagian dari keluarga besar HMI/KAHMI, sebuah organisasi yang telah melahirkan banyak kader dengan kiprah di berbagai bidang kehidupan.

Eksistensi HMI/KAHMI tidak semata-mata diukur dari banyaknya kader yang menduduki jabatan strategis di pemerintahan, lembaga legislatif, dunia pendidikan, maupun sektor swasta. Lebih dari itu, eksistensi organisasi ini harus tercermin dalam kontribusi nyata bagi masyarakat, keberanian menyuarakan kebenaran, komitmen terhadap keadilan, serta konsistensi memperjuangkan kepentingan rakyat. Jabatan dapat berakhir, tetapi nilai perjuangan dan pengabdian seharusnya tetap hidup sepanjang hayat.

Kehadiran kader HMI/KAHMI di pemerintahan merupakan salah satu bentuk pengabdian yang patut diapresiasi. Namun, kehadiran tersebut sekaligus membawa tanggung jawab moral yang besar. Setiap kader yang memperoleh amanah publik hendaknya mampu menunjukkan integritas, profesionalisme, dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat. Identitas sebagai kader tidak cukup hanya disebutkan, tetapi harus dibuktikan melalui kebijakan yang adil, keputusan yang bijaksana, dan tindakan yang memberikan manfaat bagi bangsa dan negara.

Di sisi lain, kader HMI/KAHMI yang berkiprah di luar pemerintahan juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Mereka dapat berkontribusi melalui pendidikan, penelitian, kegiatan sosial, dunia usaha, kebudayaan, pers, dan berbagai ruang pengabdian lainnya. Pembangunan Indonesia bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Oleh karena itu, kader yang berada di dalam maupun di luar pemerintahan perlu membangun sinergi, saling menguatkan, dan menghindari persaingan yang justru melemahkan tujuan perjuangan bersama.

Karena itu, HMI/KAHMI perlu terus menjaga independensi, memperkuat tradisi intelektual, dan merawat semangat persaudaraan di tengah perbedaan pilihan politik maupun profesi. Alumni yang berada di pemerintahan hendaknya tetap terbuka terhadap kritik, sedangkan alumni yang berada di luar pemerintahan perlu berani memberikan masukan yang konstruktif. Perbedaan bukan alasan untuk memutus silaturahmi. Sebaliknya, perbedaan harus menjadi kekuatan untuk melahirkan gagasan, memperbaiki kebijakan, dan menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan bangsa. Dengan demikian, KAHMI benar-benar menjadi kekuatan moral dan intelektual yang bermanfaat bagi Indonesia.

Pada akhirnya, rasa syukur menjadi kader HMI/KAHMI sebagaimana tercermin dalam perbincangan bersama Prof. Rokhmin Dahuri hendaknya diwujudkan melalui pengabdian yang berkelanjutan. Kebesaran organisasi bukan hanya terletak pada siapa yang berhasil mencapai puncak jabatan, melainkan pada seberapa besar kontribusi seluruh kader dalam membangun masyarakat yang adil, makmur, beradab, dan bermartabat. Mari kita rawat semangat perjuangan, perkuat persaudaraan, dan jadikan ilmu serta pengabdian sebagai warisan terbaik bagi generasi mendatang. YAKUSA! Yakin Usaha Sampai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budayakan. Rasa malu dan jangan mengcopy  karya orang lain