Keiblisan Melawan Tuhan

Oleh, Maman A Majid Binfas

Batam – detikperistiwa.co.id

Diksi keiblisan boleh dimaknai dengan segala sesuatu yang memiliki sifat, watak atau karakteristik seperti iblis. Di mana karakteristik dasar iblis dalam teologi memang sifatnya yang suka menghasut, memfitnah, atau menjerumuskan orang lain ke dalam kesesatan atau kesengsaraan.

Bahkan, perbuatannya yang sangat kejam, licik, dan merusak, melampaui batas kemanusiaan. Dikarenakan keakutan sifat sombongnya sejak diciptakan Adam dengan angkuh menolak peruntah Tuhan untuk bersujud kepada Nabi Adam. sebagaimana di dalam QS. Al Baqarah: 34 yang berarti;

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kalian kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis; ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.”

Kemudian, di dalam QS. Al-A’raf ; 12 yang berarti;

“Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Aku lebih baik darinya; Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”

Menurut tafsiran Ibnu Katsir tentang frasa akhir dari ayat diatas, bahwa Iblis menolak perintah Allah dengan mengajukan argumen rasional yang keliru. Iblis mengklaim unsur api lebih mulia daripada unsur tanah karena sifat api yang membubung ke atas (tinggi) dan tanah yang berada di bawah.

Ibnu Katsir menekankan bahwa ini adalah bentuk analogi hukum yang rusak (qiyas fasid). Iblis gagal memahami bahwa kemuliaan sejati seorang makhluk dihadapan Allah tidak diukur dari materi asal penciptaannya, melainkan dari tingkat ketaatan dan kepatuhan mutlak kepada pencipta-Nya.

Padahal semulanya, Iblis tinggal dan beribadah bersama saf para malaikat, menolak tunduk bukan karena tidak tahu hukum, melainkan karena keangkuhan batiniah yang menolak untuk taat kepada perintah-Nya.

Kesombongan tersebut yang mengubah status Iblis dari makhluk yang taat menjadi kafir dan dikutuk oleh Tuhan hingga kiamatan bersama dengan pengikut setianya. Dan kepada para pengikut setianya pun dihianatinya dengan ultimatum sangat tegas melalui khutbah Keiblisannya agar tidak melibatkan dirinya.

Iblis pun Berkhutbah

Kalau sudah diketahui, tidak mesti diberitahu lagi akan aura roman hitam putih dari segala perbuatan yang memang ada resikonya

Kecil atau besar mesti ada akibatnya masing-masing, namun di dalam dunia ghaib tentu berbeda akumulasi dengan dunia nyata berkalam

Konon, di dalam dimensi keghaiban tidak mengenal timbang tebang pilih rasa bertameng, secuil apapun mesti disapuratain dikarenakan gulita bergelimang

Kemunkaran yang sengaja mempermainkan Tuhan dengan kesesatan nyata dan telah diketahuinya memang berkeiblisan.

Bahkan Iblis pun berkhutbah kepada para pengikutnya yang diabadikan dengan nyata di dalam QS Ibrahim ayat 22 yang berarti;

“Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku mengingkarinya. Tidak ada kekuasaan bagiku sedikit pun terhadapmu, kecuali aku (sekadar) menyerumu, lalu kamu mematuhi seruanku.

Oleh karena itu, janganlah kamu mencercaku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menjadi penolongmu dan kamu pun tidak dapat menjadi penolongku.

Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.

Sesungguhnya orang-orang zalim akan mendapat siksaan yang sangat pedih.”

Bara kepedihan bukan hanya setelah di akhiratan tetapi dunia kini hingga bermautan pun dirasakan akibat dari segala ditanam mesti dipanen

Wassalam //terpulang mesti berkalam //Keiblisan pun diketahui memang akan sekalian punahan bersalam

Diketahui akan Punah

Bila telah diberitahu dengan sumpah dan berjanji akan beresiko tinggi, baik menimpa diri maupun turunan keluarga akan punah

Kenapa mesti paksakan diri untuk melakukan kejahatan terselubung nan nyata berkesesatan dan memang telah dikutuk oleh Tuhan tanpa ampunan

Bahkan Iblis yang disembahin pun, telah lepas tangan dengan tegas di dalam QS Ibrahim: 22, nyata dibagian akhirnya yang berarti;

“… Sesungguhnya aku/iblis tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.

Sesungguhnya orang-orang zalim akan mendapat siksaan yang sangat pedih.”

Sungguh mengherankan, koq mereka masih memilih jalan kepedihan, padahal Tuhan telah menunjuk jalan “ihdinas shiratal mustaqim/ Tunjukilah kami jalan yang lurus”.

Bukankah QS Alfatihah: 6 tersebut, telah dihafal dan dilafaz berulang kali disetiap saat, baik dalam sholat maupun ikrarkan rutinitas lain agar tidak walaḍ-ḍāllīn atau berbuat zalim.

Telah //diketahui akan punah/masih juga memilih// berdaulat tuanku pada keiblisan an sich

tidak //hanya secara individualisasi bersorak //tetapi// juga ragam berjejaring antar institusi ormas bercorak

Ormas ala Daulat Tuanku

Ormas atau Organisasi Kemasyarakatan bukanlah instansi birokrasi yang berhirarki agak berkesan elitis, bah menara gading yang berdaulat tuanku!

Tetapi, ia hadir memang sebagai wadah gerakan menjadi tumpuan konsultasi umat semesta di dalam mengatasi problem kehidupannya sehingga mendapatkan secercah tetesan solusi yang dapat mencerahkan secara etis menjadi atlasnya!

Begitu pula, esensi dari instansi yang bersifat sosial keagamaan dan pendidikannya, baik PAUD berhingga perguruan tinggi maupun beragam lanyanan sosial lainnya.

Kalau kini telah berubah esensi nilai rasa dari akar asasi gerakannya, maka apa bedanya dengan birokrasi hirarki berdaulat tuanku yang lainnya.

Tentu, hal demikian telah jauh dari akar mendasar yang diikrarkan dengan lillahi ta’ala nan tulus dan tulen oleh pendirinya masing-masing !

Apalagi, kini terkesan berebutan hanya demi posisi berdaulat tuanku, maka semakin gulita fondasi ketulusan lillahi ta’ala secara tulen oleh pendirinya !

Tentunya, wajar juga Kami beramuk muakan pula akan kelakuan yang menodai niat tulus yang Lillahi ta’ala. Kalaulah, kader tulen nan demikian, sungguh terasa hina nan memalukan. Justru telah menghina ayat Tuhan
“Lima takuluna mala tafalun ..”

QS. Ash-Shaff: 2 nan berarti;

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” _

Jadi, sekalipun dipolesin khutbah bergaya sorbanan atau beraktivitas ala akademisi didagelaninya. Namun, sebaliknya justru berperan berbuhulan ala berkeiblisan melawan Tuhan dan menjadikan Jejaring Masif (JM) di dalam tindakan yang terselubungan kelam. Wallahualam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budayakan. Rasa malu dan jangan mengcopy  karya orang lain