
Al-Syuhrah wa Al-Istifadhah: Bantahan Terhadap Lora Ismael Al Kholilie dan Lain-lain

Sudah hampir dua tahun saya tidak lagi mengikuti isu nasab. Isu ini saya perhatikan lagi baru-baru ini setelah menyimak perdebatan Kiai Imaduddin Utsman dan Lora Ismael Amin Kholil di timeline Facebook. Setelah menelaah argumen kedua pihak, saya menyimpulkan: Lora Ismael bersikukuh menolak tuntutan Kiai Imad soal kitab sezaman. Ra Ismael menyebutkan kemasyhuran dan kepopuleran, atau dalam bahasa lain Al-Syuhrah wa Al-Istifādlah, yang dimiliki Bā ‘Alwī sudah cukup menjadi bukti keabsahan nasabnya.

Dari sini saya tergelitik untuk mencari: Apakah betul genealogi Bā ‘Alwī itu masyhūr dan mustafādl? Saya akan menjawab hal ini dengan buku-buku yang menjadi pegangan Bā ‘Alwī sendiri.

Dalam buku sejarahnya yang masyhur, Bāmakhramah (w. 972 H) menulis:

“Ketika Ahmad b. ‘Īsā datang (ke Hadramawt) dan ia mengaku sebagai keturunan Nabi, penduduk Hadramawt tidak mengingkarinya.” (Qilādat al-Nahr, Jeddah: Dār al-Minhāj, 2008 M, vol. ii, hlm. 619).

Kutipan itu mengindikasikan bahwa penduduk Hadramawt langsung percaya akan ke-sayid-an Ahmad. Mayoritas sejarawan Bā ‘Alwī menyebut hijrahnya Ahmad ini terjadi pada tahun 317 H (Badlā’i’ al-Tābūt, Ibn ‘Ubayd Allāh Al-Saqqāf, MS, Archive, vol. i, hlm. 223). Pertanyannya kemudian: Benarkah penduduk Hadramawt tidak mengingkari kesayidannya?

Penulis menganggap keterangan ini tidak konsisten karena dua hal: Pertama, adanya keterangan dari kitab Al-Manhal Al-A’dal bahwa Ahmad b. ‘Īsā datang ke Hadramawt bukan pada tahun 317 H. Melainkan tahun 540 H. Hal ini berarti: kalau soal tahun saja sudah tidak konsisten dan perbedaan tahunnya sangat signifikan, bagaimana kejadian faktualnya bisa dipercaya? Sementara alasan yang kedua, adalah paragraf lanjutannya:
“Kemudian penduduk Hadramawt menginginkan agar ada saksi yang menguatkan – ketika itu di Tarīm ada tiga ratus mufti – maka diutuslah ‘Alī ibn Jadīd ke Basrah untuk meminta pengesahan dari seorang kadi di sana … dst.” (Qilādah, ibid)
Paragraf lanjutan ini dengan sangat jelas menunjukkan bahwa kesyarifan Ahmad b. ‘Īsā diragukan secara turun temurun selama ratusan tahun (‘Alī ibn Jadīd yang diutus pergi ke Basrah adalah keturunan ke delapan dari Ahmad b. ‘Isā!). Jika Lora Ismael menjawab: “Ah … diutus mengisbat ke Basrah itu kan bukan karena ragu, tapi untuk menguatkan saja!” Maka paragraf dari ‘Abd Allāh b. Muhammad Bā Sawdān berikut mungkin bisa menjelaskan:
“Yang mendorong para ulama agar Bā ‘Alwī mengisbat nasabnya ke hadapan pengadilan adalah ‘bisikan-bisikan Ibādliyyah’.” (Badlā’i’, vol. i, hlm. 231)
Artinya yang meragukan adalah para ulama!
Jika Lora Ismael masih ngotot dengan mengatakan: “Tapi kan setelah itu mereka taslīm, pasrah, dan ijmak akan keabsahan nasab Bā ‘Alwī?!” Maka biarlah Al-Syillī dalam Al-Masyra’ Al-Rawī yang menjawab. Ia berkata (saya tuliskan teks Arab-nya, pen):
فزعم أن قولهم آل باعلوي يدل على أنهم من ذرية علي من غير الحسن والحسين وقد وقع هذا أيضًا لأبناء هذا الوقت ممن كبه الخزي والمقت
“Sebagian orang mengira bahwa yang dimaksud “Ba ‘Alwi” adalah keturunan Alī selain dari Al-Hasan dan Al-Husain. Ironisnya hal ini muncul dari orang-orang masa kini yang ditimpuk kehinaan dan kemurkaan.” (Al-Masyra’ Al-Rawī, Al-Syillī, cet: Al-‘Āmirah Al-Syarqiyyah, 1319 H, vol. ii, hlm. 28).
Artinya hingga masa Al-Syillī nasab Bā ‘Alwī tidak pernah disepakati. Dan ini sudah berlangsung sejak kedatangan Ahmad b. ‘Īsā Al-Muhājir ke Hadramawt. Padahal definisi Al-Syuhrah wa Al-Istifādlah adalah:
وحد الشهرة والاستفاضة انتشار الأمر وظهوره حتى لا ينكر
“Menyebar dan terkenal hingga tidak mungkin diingkari.” (Mawsū’ah al-Fiqh Al-Islāmī, Kairo: Al-Awqāf Al-Mishriyyah, 1386 H, vol. vii, hlm. 174)
Maka pengakuan Lora Ismael – dan juga yang lain – bahwa Bā ‘Alwī itu masyhur adalah pengakuan yang bohong dan penuh dengan kontradiksi. Bukan saya yang mengatakan demikian, melainkan kitab-kitab yang dijadikan rujukan oleh Bā ‘Alwī sendiri.
Tulisan ini dimuat pertama kali oleh Arina.id: https://arina.id/perspektif/ar-uIyHk/al-syuhrah-wa-al-istifadhah–bantahan-terhadap-lora-ismael-al-kholilie-dan-lain-lain
<Kaperwil jateng>


