Air Surut, Kini Menyisakan Luka: Jeritan Sunyi Korban Banjir Aceh dan Seruan Arizal Mahdi Agar Bantuan Asing Dibuka

Banda Aceh | detikperistiwa.co.id

Ketika banjir besar akhirnya surut dari dataran tinggi Aceh, air memang menghilang, tetapi rasa takut, lapar, dan kehilangan justru semakin menebal. Di balik hamparan lumpur yang mengering, tersimpan kisah-kisah manusia yang penuh luka: ibu-ibu yang hanya mampu menenangkan anak-anak mereka dengan air putih, lansia yang menggigil di tenda seadanya, hingga keluarga yang kehilangan harapan satu per satu.

Di tengah gelombang penderitaan itu, Arizal Mahdi, Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas (RPRLB), mengeluarkan seruan paling tegas sejak bencana melanda: “Buka akses bantuan internasional. Jangan biarkan rakyat mati karena kelaparan.”

“Kami Selamat dari Banjir, tapi Tidak dari Lapar”

Di Aceh Tengah, seorang ayah memeluk anaknya yang pucat di atas tikar tipis. Sudah tiga hari mereka hanya memakan biskuit yang terendam lumpur. Istrinya jatuh sakit karena air minum yang tercemar. Rasa syukur karena selamat berubah menjadi kecemasan mendalam.

Mereka bukan satu-satunya.

Di Bener Meriah dan Aceh Tamiang, cerita serupa bergema dari berbagai penjuru. Ribuan keluarga kini hidup dengan persediaan makanan yang semakin menipis. Obat-obatan mulai berkurang. Banyak anak pingsan karena tidak makan cukup. Para lansia terbaring lemah. Bayi-bayi menangis kehausan, tanpa susu formula yang memadai.

Dan dari semua cerita itu, satu kenyataan pahit tak bisa disangkal: sebagian besar korban pasca banjir bukan meninggal karena air. Mereka meninggal karena kelaparan.

Kritik Tajam Arizal Mahdi: “Ini Bukan Soal Politik. Ini Soal Nyawa.”

Arizal Mahdi menyebut penolakan terhadap bantuan asing—saat rakyat sedang dalam kondisi genting—sebagai tindakan yang tidak etis dan bertentangan dengan nilai kemanusiaan.

“Tidak ada yang lebih menyakitkan selain melihat rakyat kelaparan ketika dunia siap membantu. Mengapa kita menutup pintu ketika rakyat hampir tidak mampu berdiri lagi? Ini bukan tentang politik, bukan tentang kebanggaan. Ini tentang nyawa manusia.”

Arizal menjelaskan bahwa laporan lapangan menunjukkan warga kini mengalami kekurangan kritis atas air bersih yang layak minum, obat-obatan dasar dan perlengkapan medis, tenda dan tempat istirahat layak, pakaian hangat, serta susu formula untuk bayi dan anak-anak.

“Situasi ini sangat genting. Ketika bantuan internasional ditolak, penderitaan tidak hanya berlanjut—tetapi semakin dalam,” ujarnya.

Kisah Ibu Aceh Tengah: Lilin Kecil di Tengah Gelap

Di sebuah desa terpencil yang dikelilingi lumpur, seorang ibu menyalakan lilin kecil di tengah tenda gelap. Tiga anaknya duduk memeluk lutut, berusaha mengusir rasa takut yang belum juga hilang. Angin malam sangat dingin, membuat suara mereka bergetar.

Dengan suara lirih ia berkata: “Kalau pun tidak ada makanan, tolonglah… setidaknya ada yang datang melihat kami.”

Kalimat sederhana itu menggambarkan kepedihan yang tidak tertulis—jeritan sunyi yang jarang sampai ke telinga dunia luar.

“Aceh Tidak Boleh Mengalami 2004 untuk Kedua Kalinya”

Bagi sebagian warga, trauma 2004 masih hidup dalam ingatan mereka. Tsunami besar itu pernah merenggut segalanya. Kini, banjir kembali merusak rasa aman, bukan hanya karena air, tetapi karena ancaman kelaparan.

Arizal Mahdi mengingatkan bahwa banyak negara sahabat telah menyatakan kesediaan mengirimkan bantuan tanggap darurat, mulai dari makanan siap saji hingga tim medis.

“Aceh tidak boleh mengalami tragedi kedua. Rakyat tidak boleh kembali merasakan kehilangan hanya karena bantuan tidak segera datang,” tegasnya.

Harapan Terakhir Rakyat: “Tolong Buka Pintu… Kami Tidak Kuat Lagi”

Hari ini, tiga kabupaten—Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Tamiang—berada dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Pengungsian semakin padat. Penyakit pasca banjir mulai muncul. Kelaparan semakin nyata dan membayangi banyak keluarga.

Di sejumlah lokasi, warga duduk memandang jalanan, berharap ada kendaraan bantuan yang datang. Ada yang menangis, ada yang terdiam karena putus asa, sementara lainnya hanya bisa memeluk anak-anak mereka dengan harapan ada sedikit keajaiban yang tiba malam ini.

Penutup: Seruan Kemanusiaan untuk Dunia

Aceh tidak meminta sesuatu yang mewah. Aceh hanya meminta makanan, air bersih, obat-obatan, tenda, dan selimut.

Seruan itu kini kembali disampaikan Arizal Mahdi: “Bantulah Aceh. Kemanusiaan tidak mengenal batas negara. Ketika rakyat sedang kelaparan, tidak ada alasan untuk menolak bantuan. Ini waktunya membuka pintu, bukan menutupnya.”

 

 

(Red)