Bangkit Pasca Bencana Pak Tani Ajak Ibu-ibu Desa Kembangkan Pertanian Organik, Aceh Timur

Aceh Timur – detikperistiwa.co.id

Hamparan lahan di Gampong Seneubok Saboh, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh timur, yang pernah terendam banjir dan dianggap tidak produktif, kini berubah menjadi kebun sayuran organik yang dikelola secara bersama oleh warga setempat. Gerakan pemberdayaan masyarakat ini dipelopori oleh Zulfan, yang akrab disapa Pak Tani, bersama 30 ibu-ibu desa dengan dukungan dari Lembaga Hiroe Peduli Kemanusiaan.
6 MARET 2026 –

Pak Tani menerapkan metode pertanian organik tanpa menggunakan bahan kimia, dengan mengusung filosofi lokal Aceh yang berbunyi: “Pula Kedroe, Pajoh Kedroe, yang leubeh baroe tapubloe”. Kalimat tersebut memiliki makna “tanam sendiri, konsumsi sendiri, dan jika ada kelebihan barulah dijual ke pasar”.

“Melalui konsep ini, saya ingin mengajak ibu-ibu untuk memanfaatkan pekarangan rumah masing-masing untuk menanam sayuran. Selain dapat memenuhi kebutuhan gizi keluarga, hasil panen yang berlebih juga dapat menjadi tambahan penghasilan,” jelas Zulfan.


Pertanian organik yang diterapkan memanfaatkan bahan-bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar rumah, seperti daun-daunan hijau, sisa dapur, serta kotoran ternak untuk membuat pupuk. Hal ini membuat biaya produksi menjadi lebih murah dibandingkan penggunaan pupuk kimia, sekaligus lebih ramah lingkungan dan sehat bagi konsumen.

Bagi para ibu yang terlibat, kegiatan pertanian ini bukan hanya tentang menghasilkan sayuran, tetapi juga menjadi pengalaman baru yang menyenangkan. “Saya baru tahu bahwa menanam menggunakan pupuk organik itu selain murah, juga sehat dan menyenangkan. Kami jadi bisa belajar banyak hal baru,” ujar Yuli, salah seorang peserta, saat sedang merawat tanaman di kebun.

Ke depan, program pertanian organik berbasis masyarakat ini direncanakan tidak hanya berhenti di Gampong Seneubok Saboh. Inisiatif tersebut akan dikembangkan ke daerah lain yang terdampak bencana, sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi dan peningkatan ketahanan pangan masyarakat. Dari lahan bekas bencana, kini tumbuh semangat baru berupa kemandirian pangan, kebersamaan, dan harapan bagi masa depan yang lebih baik.

(Abu yus)