Bendahara Pemuda Pancasila PAC KOTA Sidoarjo Berikan Apresiasi Pelatian Korban Di MKN 1 Sidoarjo

BENDAHARA PEMUDA PANCASILA PAC. KOTA SIDOARJO MEMBERIKAN APRESIASI PELATIAN KORBAN NAPZA Di MKN 1 SIDOARJO

Sidoarjo,Bendahara PP PAC Sidoarjo Kota memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan pelatihan penanganan korban NAPZA yang digelar di SMKN 1 Sidoarjo. Pelatihan dengan tema “Peningkatan Pengetahuan Kelainan Neuro-Psikiatri dan Kegawatan Psikiatri pada Konselor Pengguna NAPZA Surabaya–Sidoarjo” ini menghadirkan tim UNIER Surabaya yang bekerja sama dengan tim YR Cobra sebagai pendamping teknis.

Kegiatan ini tidak sekadar forum penyampaian materi, tetapi dirancang sebagai ruang belajar interaktif bagi para konselor dan relawan yang terlibat langsung dalam penanganan kasus penyalahgunaan narkotika. Kedua narasumber, dr. Langgeng dan dr. Shela, menyampaikan materi yang relevan dengan tantangan masa kini, mulai dari cara mengenali kelainan neuro-psikiatri akibat penggunaan zat, hingga langkah penanganan darurat bagi korban yang mengalami kegawatan medis maupun psikiatri.

dr. Langgeng menekankan bahwa permasalahan NAPZA tidak hanya berdampak pada fisik pengguna, tetapi juga memengaruhi sistem saraf dan kondisi psikologis sehingga penolong harus memahami gejala secara komprehensif. Sementara itu, dr. Shela menyoroti pentingnya kecepatan respons saat korban mengalami halusinasi berat, serangan panik, agresivitas, hingga kehilangan kesadaran akibat overdosis.

Sebanyak 30 peserta dari berbagai instansi hadir mengikuti kegiatan ini. Salah satu peserta, Ja’far Shodiq dari PMI Sidoarjo, mengungkapkan bahwa pelatihan tersebut memberikan pengalaman baru yang sangat dibutuhkan para relawan di lapangan. Ia menilai sesi simulasi penanganan kegawatan medis menjadi bagian yang paling berkesan, karena peserta dilatih mengenali tanda-tanda vital korban, mengambil keputusan cepat, serta melakukan pertolongan awal sebelum korban ditangani tenaga medis profesional.

Selain itu, peserta juga mendapatkan modul pendek mengenai pendekatan psikososial, teknik komunikasi efektif dengan pengguna, dan strategi preventif untuk mendorong masyarakat menjauhi penyalahgunaan narkotika. Melalui diskusi kelompok dan studi kasus, peserta diajak memahami kondisi pengguna dari sudut pandang yang lebih manusiawi, sekaligus memperkuat keterampilan mereka sebagai garda depan penyelamatan korban.

Para peserta berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda rutin, mengingat kasus penyalahgunaan NAPZA terus meningkat dan membutuhkan penanganan yang lebih terstruktur serta terlatih. Mereka berharap adanya pelatihan lanjutan dengan cakupan materi yang lebih luas, termasuk konseling keluarga, rehabilitasi berbasis masyarakat, serta strategi komunikasi publik untuk kampanye anti-NAPZA yang lebih efektif.

Dengan adanya pelatihan seperti ini, para peserta optimis bahwa upaya edukasi dan penanganan korban NAPZA di wilayah Sidoarjo dan Surabaya dapat berjalan lebih profesional, terkoordinasi, dan berdampak langsung bagi masyarakat. Mereka berharap kolaborasi lintas instansi dan pihak sekolah dapat terus diperkuat demi menekan angka penyalahgunaan narkotika yang semakin mengkhawatirkan.(luqman)