Danton Herman, Eks Komandan Pasukan Elit GAM Johan Pahlawan Wilayah Meulaboh Raya: Parpol Menjebak Rakyat Aceh dengan Pola Mengusung Dua Kandidat Gubernur yang Kurang Disukai Rakyat, Dua-Duanya Memicu Konflik dan Tidak Layak Sebagai Pemimpin

Jakarta – detikperistiwa.co.id

Hermansyah, seorang mantan Komandan Pleton (Danton) pasukan elit Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang selama konflik bertugas di Daerah Komando Johan Pahlawan Wilayah Meulaboh Raya, mengungkapkan keprihatinannya terkait dinamika politik di Aceh menjelang Pilkada Serentak yang akan digelar pada 27 November 2024. Kepada sejumlah media yang menemuinya di Jakarta, Selasa (3/9), Herman menyoroti situasi Pilkada yang menurutnya dapat merugikan masyarakat Aceh secara keseluruhan.

Pria kelahiran tahun 1980, yang aktif sebagai anggota dan salah satu Komandan Tentara Neugara Acheh (TNA) sejak 2001, menilai bahwa pencalonan gubernur oleh koalisi partai politik di Aceh tidak adil. “Kedua kandidat yang diusung, Bustami Hamzah dan Muzakkir Manaf, dikenal publik sebagai figur yang tidak pantas memimpin Aceh. Keduanya tidak memiliki nilai tambah dan justru telah memicu berbagai masalah, termasuk konflik horizontal dan penyimpangan keuangan daerah,” tegasnya.

Herman mengkritik keras langkah partai politik yang menurutnya hanya akan memperburuk keadaan di Aceh. Dia menyarankan agar Partai Aceh (PA) dan partai-partai lain segera mengusung figur lain yang lebih layak dan berpengalaman. “Partai Aceh seharusnya membuka diri terhadap figur-figur lain yang lebih kompeten dalam memimpin dan membangun Aceh,” tambahnya.

Lebih lanjut, Herman mengungkapkan bahwa partai-partai politik di Aceh telah melakukan kejahatan politik dengan memaksakan pencalonan Bustami Hamzah dan Muzakkir Manaf. Menurutnya, partai-partai tersebut telah menyandera rakyat Aceh dengan hanya memberikan dua pilihan yang sama-sama tidak layak, padahal ada figur lain seperti Muhammad Nazar SIRA yang lebih pantas untuk diusung.

Dalam pandangannya, Pemerintah dan Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh harus membuka pendaftaran ulang bagi kandidat gubernur agar rakyat Aceh tidak terjebak dalam pilihan politik yang merugikan. “Aceh membutuhkan pemimpin yang benar-benar layak dan dapat membawa daerah ini keluar dari krisis menuju perdamaian dan kesejahteraan,” pungkas Herman.

Herman juga menegaskan bahwa pencalonan Bustami Hamzah dan Muzakkir Manaf tidak hanya kontroversial, tetapi juga telah memicu konflik di lapangan. “Jika kedua kandidat ini terus dipaksakan, mereka akan menjadi ancaman bagi perdamaian dan demokrasi di Aceh,” tutupnya dengan nada pedas.

Detik peristiwa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hayo mau copy paste ya?