Berita  

Dari Sampan hingga Secangkir Kopi: Cara Baru Menggerakkan Wisata Aceh Tengah (Gagasan pengembangan wisata berbasis pengalaman untuk meningkatkan PAD dan menggerakkan UMKM di Kabupaten Aceh Tengah)

Oleh : H.Winnur Wajda, S.E., M.M. (Komisioner Baitul Mal Kabupaten Bener Meriah)

Aceh Tengah – detikperistiwa.co.id

Aceh Tengah memiliki modal wisata yang lengkap: alam, budaya, dan keramahan masyarakat Gayo. Danau Laut Tawar, pacuan kuda tradisional, Pantan Terong, Bur Telege, kebun kopi, pemandian air panas, hingga potensi arung jeram Wih Isaq adalah sebagian di antaranya. Tantangannya kini adalah mengubah potensi itu menjadi produk wisata yang bernilai ekonomi.

Selama ini, wisatawan umumnya datang untuk melihat pemandangan, berfoto, lalu pulang. Padahal ada peluang yang lebih besar. Wisatawan dapat dilibatkan langsung dalam aktivitas, mengenal budaya setempat, dan merasakan kehidupan masyarakat Gayo. Inilah inti konsep wisata berbasis pengalaman: nilai sebuah destinasi tidak hanya terletak pada keindahannya, tetapi pada apa yang dapat dicoba, dipelajari, dan dinikmati pengunjung.

Dari Menikmati Pemandangan ke Merasakan Pengalaman
Bayangkan wisatawan di Danau Laut Tawar tidak hanya duduk memandang panorama, tetapi belajar mendayung sampan tradisional bersama warga yang memahami kondisi danau. Pengalaman sederhana seperti ini sulit ditemukan di tempat lain.

Di kawasan pacuan kuda tradisional Gayo, pengunjung tidak hanya menonton perlombaan, tetapi juga dapat mencoba berkuda di area khusus dengan pendamping terlatih, sesuai standar keselamatan dan kesejahteraan hewan.

Di Pantan Terong dan Bur Telege, panorama pegunungan dapat dipadukan dengan trekking dan wahana petualangan seperti flying fox, selama lokasi memenuhi persyaratan teknis dan keselamatan. Danau Laut Tawar juga dapat menawarkan perjalanan perahu wisata dan speedboat yang dikelola profesional dengan memperhatikan keselamatan pelayaran dan kelestarian lingkungan.

Kebun kopi Gayo menawarkan pengalaman yang tak kalah menarik. Wisatawan dapat memetik buah kopi, melihat proses pengolahan, menyangrai biji, lalu menyeduh dan menikmati kopi buatan sendiri. Aktivitas ini menambah pengetahuan sekaligus membuka pendapatan tambahan bagi petani dari jasa wisata dan penjualan produk.

Pemandian air panas weh porak, Bies dapat dikembangkan menjadi layanan rekreasi yang nyaman dan tertata. Adapun arung jeram Wih Isaq dengan tantangan derasnya arus air perlu dikaji sebagai wisata petualangan dengan pemandu terlatih, perlengkapan keselamatan, dan rute yang sesuai dengan karakter sungai serta kemampuan pengunjung.
Seluruh gagasan ini tentu memerlukan pemetaan, kajian kelayakan, kesiapan pengelola, dan penilaian risiko sebelum dijalankan. Prinsipnya, setiap potensi wisata perlu memiliki aktivitas khas yang bermakna bagi pengunjung dan bernilai jual.

Peluang Usaha Baru bagi Masyarakat
Wisata berbasis pengalaman tidak selalu menuntut fasilitas besar dan investasi mahal. Banyak kegiatan dapat dirintis melalui kemitraan dengan masyarakat yang sudah memiliki sumber daya dan keterampilan:
1. Pemilik sampan menawarkan jasa wisata mendayung.
2. Petani kopi membuka paket kunjungan kebun.
3. Pemilik kuda menyediakan pengalaman berkuda.
4. Pelaku UMKM menjual kuliner khas, kopi Gayo, kerajinan, dan cendera mata.
5. Pemuda kampung dilatih menjadi pemandu wisata, fotografer, pengelola pemesanan, atau penyedia transportasi.
Dengan demikian, satu destinasi dapat menghidupkan banyak usaha. Wisatawan yang membeli satu paket pengalaman berpotensi juga membelanjakan uangnya untuk makanan, penginapan, transportasi, dan produk lokal. Perputaran ekonomi ini diharapkan memperluas lapangan kerja, menambah pendapatan keluarga, dan memperkuat UMKM berbasis potensi kampung.

Peran Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, melalui Dinas Pariwisata, dapat berperan sebagai fasilitator, pembina, sekaligus penggerak kemitraan antara pengelola destinasi, masyarakat, pelaku UMKM, koperasi, BUMK, dan dunia usaha.
Langkah awalnya meliputi:
1. Memetakan potensi wisata yang siap dikembangkan.
2. Mengidentifikasi aktivitas yang dapat ditawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budayakan. Rasa malu dan jangan mengcopy  karya orang lain