Bireuen – detikperistiwa.co.id
Lumpur yang tersisa di beberapa sudut Desa Ujoeng Blang belum sepenuhnya mengering. Dinding rumah yang sempat terendam masih tampak kusam, sebagian warga perlahan memperbaiki bagian yang rusak. Tiga bulan setelah banjir, longsor, dan luapan lumpur melanda sejumlah wilayah Kabupaten Bireuen, pemulihan berjalan, tetapi belum sepenuhnya selesai.
Di tengah situasi itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bireuen, Munzir—yang akrab disapa Mandala—memilih mendatangi langsung titik-titik terdampak selama Ramadan. Bukan dalam format seremonial besar, melainkan kunjungan lapangan yang sederhana: berdialog dengan warga, meninjau kondisi rumah, serta menyalurkan makanan berbuka puasa kepada keluarga yang masih beradaptasi dengan kondisi pascabencana.
Kegiatan dilakukan di Desa Pante Lhoeng dan Desa Kapa (Kecamatan Peusangan), Desa Ujoeng Blang (Kecamatan Kutablang), serta Desa Lueng Kuli (Kecamatan Peusangan Selatan), dan direncanakan berlangsung hingga akhir Ramadan.
Mendengar Sebelum Bertindak
Bagi sebagian warga, yang paling terasa bukan hanya bantuan konsumsi harian, melainkan ruang untuk menyampaikan kondisi mereka secara langsung.
“Kalau ada yang datang dan mau dengar, itu sudah membantu kami merasa diperhatikan,” ujar seorang warga yang rumahnya sempat terendam banjir.
Munzir menyebut Ramadan sebagai momentum memperkuat solidaritas sosial. Namun dalam praktiknya, pendekatan yang dilakukan lebih banyak diisi dialog ketimbang pidato.
“Kehadiran langsung penting agar kita memahami kebutuhan riil masyarakat. Bantuan harus tepat sasaran dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pendekatan ini mencerminkan pola kerja yang tidak berhenti pada distribusi, melainkan pada pemetaan kebutuhan. Dalam konteks daerah yang menghadapi risiko bencana berulang, respons sosial yang terukur menjadi bagian penting dari ketahanan jangka panjang.
Kepemimpinan dalam Masa Pemulihan
Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas, Arizal Mahdi, menilai bahwa masa pemulihan pascabencana sering kali menjadi ujian sebenarnya bagi para pemimpin lokal.
“Pada fase darurat, banyak pihak turun membantu. Tetapi ketika masuk fase pemulihan, yang dibutuhkan adalah konsistensi,” ujarnya.
Pengamat sosial di Bireuen melihat bahwa pola kepemimpinan yang hadir secara langsung—tanpa ekspos berlebihan—menciptakan persepsi stabilitas di tengah ketidakpastian. Dalam kondisi pascabencana, masyarakat cenderung mencari figur yang tenang, responsif, dan mampu menjaga komunikasi terbuka.
Di Kabupaten Bireuen, pemulihan bukan hanya persoalan infrastruktur, melainkan juga pemulihan psikologis dan ekonomi keluarga. Aktivitas perdagangan kecil, nelayan, dan pekerja harian sempat terganggu. Dalam situasi seperti itu, bantuan sosial selama Ramadan menjadi simbol solidaritas sekaligus penguat daya tahan sosial.
Lebih dari Momentum
Ramadan sering menjadi panggung kegiatan sosial bagi banyak pihak. Namun keberlanjutan menjadi pembeda utama antara kegiatan musiman dan pendekatan jangka panjang.
Munzir menegaskan bahwa pendampingan masyarakat terdampak tidak berhenti pada bulan suci.
“Kita ingin memastikan proses pemulihan berjalan. Solidaritas harus terus dijaga, bukan hanya pada satu momentum,” katanya.
Di desa-desa yang masih menyisakan bekas lumpur, pemulihan berjalan perlahan. Di sana, kepemimpinan diuji bukan oleh seberapa keras suara yang terdengar, melainkan oleh seberapa konsisten langkah yang dilakukan.
Tanpa banyak pernyataan besar, rangkaian kegiatan Ramadan tersebut menghadirkan satu pesan yang sederhana: dalam masa sulit, kehadiran yang tenang dan berkelanjutan sering kali lebih berarti daripada retorika.
Detik Peristiwa


