Semarang – detikperistiwa.co.id
Setiap tahun, ajang Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) sudah menjadi rutinitas tahunan. Namun pada Sabtu, 25 Oktober 2025, Kecamatan Gunungpati memutus pola itu, menggelar perhelatan Al-Qur’an yang boleh dibilang “paling istimewa”,
Di tengah suasana damai Pondok Pesantren Riyadlus Sholihin Al Islamy di Ngijo, sebagai tuan rumah, sebuah perhelatan akbar berlangsung.
Ini adalah kali pertama MTQ tingkat kecamatan dilaksanakan di luar lingkup kantor kecamatan. Bukan hanya itu, dengan 23 cabang lomba yang dipertandingkan (hanya menyisakan Tafsir Arab dan Qiroah Mujawwad), ada 10 Majlis, serta jumlah peserta terbanyak yaitu 360 , MTQ kali ini sarat dengan ambisi dan harapan.
Ambisi di Atas Mimbar
Bagi panitia, targetnya jelas: mempertahankan gelar Juara Umum Tingkat Kota Semarang yang telah mereka raih pada tahun 2024.
“Dengan jumlah peserta dan banyaknya cabang yang dilombakan, insya Alloh gelar juara umum bisa kita raih,” ujar Ketua Harian Panitia, Moh. Ainur Rofiq, dengan nada optimistis.
Rofiq menambahkan satu terobosan baru yang menarik: tahun ini, gelar juara umum akan diberikan pula untuk perwakilan kelurahan. Ini adalah strategi cerdas yang secara eksplisit meminta “support” atau dukungan aktif dari setiap pemangku wilayah kelurahan, memastikan seluruh ekosistem terlibat dalam perayaan dan pencapaian spiritual ini.
Dari Tegal ke Tingkat Nasional
Acara pembukaan semakin terasa bobotnya dengan kehadiran Ketua Harian LPTQ Tingkat Kota, Drs. H.M. Labib MM, serta Kabag Kesra Kota Semarang, Dr. M. Ahsan S.Ag, M.Kom, yang meresmikan acara MTQ ke-33 didampingi Camat Gunungpati Ali Ahmadi S.STP, M.Si.
Dalam pidatonya, M. Labib memberikan kabar yang membebani sekaligus membanggakan: Semarang akan menjadi tuan rumah MTQ Tingkat Nasional.
“Terus terang ini merupakan tugas berat sekaligus beban berat bagi saya, namun tetap harus saya syukuri,” katanya. Tugas ini menuntut persiapan ekstra, mengingat MTQ Tingkat Jawa Tengah sendiri baru akan digelar di Kabupaten Tegal pada bulan November.
Labib juga memberikan catatan penting untuk masa depan: “Kalau bisa untuk acara pembukaan seperti ini harus sudah live streaming dan menggandeng pihak lain juga dalam rangka peningkatan UMKM,” ujarnya, melihat potensi acara keagamaan sebagai mesin penggerak ekonomi digital maupun kerakyatan.
Dalam sambutannya, tuan rumah Ponpes Riyadlus Sholihin yang diwakili Ust. Azis Nurkholik S.Pd menyambut dengan tangan terbuka. Menghaturkan rasa terima kasih atas kepercayaannya dipilih sebagai tuan rumah.
“Dengan kerendahan hati meminta maaf sekiranya sebagai tuan rumah masih belum maksimal dalam pelayanan, mungkin sarana dan prasarana tidak seperti yang diharapkan”ungkapnya
Harapan terbesarnya adalah agar MTQ ini menjadi perekat silaturahmi antara lembaga pendidikan, ormas, pesantren, hingga Forkompimcab.
Sebagai hiburan, sekaligus ikut menyemarakkan perhelatan ini, ditampilkan gema salawat dari seni rebana, harmonisasi Tari Saman,Tari Sufi, dentuman Drumband, dan ketangkasan Pencak Silat dari Pagar Nusa (SPN) turut memeriahkan suasana.
Bagi masyarakat, stand sembako murah dari Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang menjadi pelengkap yang memberikan sentuhan kesejahteraan.
Di Gunungpati, MTQ bukan lagi sekadar perlombaan membaca Quran. Ia adalah panggung ambisi, perekat silaturahmi, dan pemanasan penting bagi Kota Semarang yang sebentar lagi akan menjadi sorotan nasional.


