Sigli – detikperistiwa.co.id
Guru SMA N 1 Muara Tiga Kabupaten Pidie tampaknya tidak kooperatif dengan jurnalis dan menghambat wartawan yang ingin menjumpai kepala sekolah. Salah satu guru Ibu Atim mengungkapkan kepala sekolah tidak bisa diganggu, dan saya tidak berani kekut pintu kepala sekolah tetapi saat ditanya guru lain, kepala sekolah ternyata ada di ruangannya. Jumat (6/2/2026)
Guru lain malah menyarankan jurnalis untuk mengetok pintu ruang kepala sekolah saja, seolah-olah tidak ada masalah. Tindakan ini membuat jurnalis merasa tidak dihargai dan dihalang-halangi untuk melakukan tugasnya.
Kepala sekolah seharusnya lebih transparan dan terbuka dengan media, bukan malah disembunyikan oleh guru-guru. Ibu Atim dan guru lain tampaknya tidak ingin kepala sekolah diwawancarai, tapi alasan mereka tidak jelas.
Guru seharusnya tidak menghalangi jurnalis melakukan tugasnya. Mereka memiliki hak dan mencari informasi. Menghalangi jurnalis bisa dianggap sebagai tindakan tidak profesional dan tidak transparan.
Guru seharusnya mendukung kebebasan pers dan memungkinkan jurnalis melakukan tugasnya dengan baik. Jurnalis memiliki hak untuk mewawancarai kepala sekolah, dan guru-guru seharusnya tidak menghalang-halangi.
Kepala sekolah SMA N 1 Muara Tiga tampaknya sengaja menghindari jurnalis. Saat dihubungi melalui telepon dan WhatsApp, dia tidak pernah menjawab atau membalas pesan.
Tindakan ini menunjukkan bahwa kepala sekolah tidak mau diwawancarai atau memberikan keterangan kepada media. Kekurangan respons dari kepala sekolah ini membuat jurnalis merasa tidak dihargai dan diabaikan.
Semoga saja kepala sekolah bisa lebih terbuka dan kooperatif dengan media di masa depan.
(Y)


