Haji 2026: Saat Birokrasi dan Spiritualitas Melebur di Aula Mijen

Semarang – detikperistiwa.co.id

Ada garis-garis keriput yang tak bisa disembunyikan di Aula Kecamatan Mijen, Sabtu (28/3) kemarin. Namun, di balik kacamata tebal dan langkah kaki yang mulai melambat, terpancar sepasang mata yang menyala. Bagi 90 jiwa yang berkumpul di Jalan RM Hadi Soebeno S No. 122 itu, manasik hari itu bukanlah sekadar prosedur administratif; itu adalah sebuah “pemanasan rindu” yang telah mengerak bertahun-tahun dalam antrean.

Enam puluh lima orang dari Mijen dan dua puluh lima dari Kecamatan Tugu duduk bersisian. Dalam psikologi komunikasi, momen ini adalah peleburan identitas wilayah menjadi identitas spiritual yang tunggal. Tak ada lagi sekat “orang Tugu” atau “orang Mijen”, yang ada hanyalah barisan calon penghuni surga yang sedang belajar cara bertamu dengan santun.

Dzikir di Tengah Transformasi

Di balik khidmatnya suasana, ada deru perubahan birokrasi yang menarik untuk disimak. Tahun ini, peta tata kelola haji mengalami re-desain. Seluruh kewenangan kini bermuara di Kementerian Haji dan Umrah Kota Semarang, dengan sokongan teknis tim dari Kemenag Kota.

Perubahan ini bukan sekadar rotasi kursi, melainkan sebuah ikhtiar memperpendek “jarak” antara pelayan dan yang dilayani. Di tingkat akar rumput, strategi ini diterjemahkan melalui rangkaian edukasi yang intens: empat kali pertemuan di tingkat kecamatan, dan satu kali pertemuan kolosal tingkat Kota di Aula UIN Walisongo Semarang sebagai simulasi adaptasi massa.

“Ini adalah eskalasi kesiapan. Kita melatih mental jamaah dari ruang yang kecil menuju kerumunan yang sesungguhnya,” ujar salah satu panitia di sela acara.

Psikologi “Tamu Pilihan”

Kepala KUA Mijen, HM Azmi Ahsan, M.Ag, tampil bukan sebagai pejabat yang berjarak, melainkan sebagai penyejuk batin. Ia menggunakan teknik positive framing untuk membangkitkan (keyakinan diri) jamaah yang mayoritas lansia.

“Allah tidak memanggil yang mampu. Allah memampukan mereka yang terpanggil,” ucap Azmi dengan intonasi yang dalam.

Kalimat ini seketika mengubah persepsi audiens. Ketakutan akan keterbatasan fisik (kesehatan) atau ketakutan akan kegagalan ritual, luruh oleh keyakinan bahwa mereka adalah “pilihan”. Azmi menitipkan tiga bekal: Ikhlas sebagai jangkar ego, Akhlak sebagai jembatan sosial, dan Ilmu sebagai peta perjalanan.

Dialog Antara Rute dan Raga

Suasana aula menjadi hidup saat H. Qosim Taufiq Akbar membedah alur perjalanan. Ia tidak hanya bicara soal rute geografis dari Jeddah ke Makkah, tapi membangun “peta mental” (cognitive mapping) agar jamaah tidak merasa asing di negeri orang.

Sementara itu, dr. Hj. Masfufah hadir memberikan perspektif medis yang sangat komunikatif. Bagi jamaah lansia, paparan kesehatan bukan lagi soal daftar penyakit, melainkan tentang bagaimana menjaga “mesin raga” agar tetap prima saat menjemput ridho Sang Pencipta.

Ketika acara ditutup, ada senyum yang lebih lebar dari saat mereka datang. Sabtu kemarin, di sebuah aula sederhana di Semarang, mereka tidak hanya pulang membawa bekal ilmu, namun mereka pulang membawa satu keyakinan: bahwa perjalanan ke Baitullah sebenarnya sudah dimulai sejak niat itu dikukuhkan di Mijen.

====
Pram

Hayo mau copy paste ya?