Bireuen – detikperistiwa.co.id
Yahya Puteh (57), seorang warga Desa Gampong Putoh, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Aceh, masih hidup dalam ketidakpastian. Bertahun-tahun ia menunggu dengan sabar harapan besar akan bantuan rumah dari pemerintah, namun kenyataan yang ia hadapi hanyalah penantian yang seolah tiada akhir. Rumahnya yang semakin lapuk dan reyot berdiri sebagai saksi bisu dari janji-janji yang belum juga dipenuhi.
Dalam suara yang penuh kesedihan, Yahya mengungkapkan betapa seringnya ia didatangi berbagai pihak yang menjanjikan bantuan. “Sudah sepuluh orang datang ke rumah, mereka memfoto kondisi rumah saya, meminta fotokopi KTP. Tapi sampai sekarang, tidak satu pun bantuan itu yang benar-benar terealisasi,” katanya dengan nada yang getir.
Rumah yang kini ia tempati sudah jauh dari kata layak. Atapnya bocor, dindingnya mulai lapuk, dan lantainya tidak lagi rata. Namun Yahya, dengan segala keterbatasannya, hanya bisa berharap pada janji pemerintah yang tak kunjung ditepati. “Saya sangat berharap, semoga suatu hari nanti saya bisa mendapatkan rumah bantuan,” ujarnya sambil menatap jauh ke depan, seolah mencari secercah harapan di balik awan gelap kehidupannya.
Yahya bukanlah seorang yang meminta lebih dari yang ia butuhkan. Ia hanya ingin tempat berteduh yang layak, tempat ia bisa menjalani sisa hidupnya dengan lebih tenang. “Setiap hari saya menunggu kabar baik itu. Tapi sampai hari ini, belum ada tanda-tanda. Saya hanya bisa berdoa semoga pemerintah mendengar suara saya ini,” tambahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Kisah Yahya Puteh adalah potret dari banyaknya warga kurang mampu yang masih terjebak dalam lingkaran ketidakpastian. Program bantuan rumah, yang seharusnya menjadi angin segar bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan, ternyata masih menyisakan banyak cerita duka yang belum terselesaikan. Bagi Yahya, setiap janji yang tak ditepati adalah beban tambahan yang harus ia pikul, bukan hanya di pundaknya, tetapi juga di hati.
Dengan penuh kesabaran dan harapan yang tak pernah padam, Yahya masih terus menunggu bantuan rumah dari pemerintah. “Saya tidak pernah putus harapan, saya percaya bantuan itu akan datang, meski entah kapan. Tapi saya tetap berdoa, semoga di suatu hari nanti saya bisa mendapatkan rumah yang layak,” tuturnya penuh harapan.
Kisah ini seharusnya menjadi panggilan bagi pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk lebih serius dalam menindaklanjuti program bantuan bagi warga seperti Yahya. Bantuan rumah bukan hanya soal tempat tinggal, melainkan tentang menjaga martabat dan memberikan kepastian hidup yang lebih baik bagi mereka yang membutuhkan.
Arizal Mahdi detik peristiwa


