Jakarta Klaim Tak Perlu Bantuan Asing, Namun Gubernur Aceh “Langgar” Arahan Demi Rakyat  Bantuan Malaysia Tiba Paling Awal

Jakarta | detikperistiwa.co.id

Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh kembali membuka perdebatan besar antara Pemerintah Pusat di Jakarta dan Pemerintah Aceh terkait arah penanganan darurat. Di tengah situasi genting ribuan pengungsi, muncul dua narasi yang saling bertentangan: Jakarta bersikeras bahwa Indonesia mampu menangani bencana tanpa bantuan asing, sementara Pemerintah Aceh memilih membuka pintu bagi siapa pun yang datang membantu.

Pemerintah Pusat menyampaikan bahwa Indonesia tidak ingin terlihat lemah atau bergantung pada negara lain, sebagaimana terjadi pada bencana tsunami 2004. Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa negara mampu mengatasi bencana ini secara mandiri, memanfaatkan kekuatan TNI, BNPB, dan struktur nasional lainnya.

Namun kondisi lapangan menunjukkan situasi yang berlawanan dengan narasi resmi pemerintah.

Rakyat Kekurangan Bantuan, Berhari-hari Terisolasi

Di sejumlah wilayah Aceh, jalan terputus, suplai logistik terhambat, obat-obatan menipis, dan ada daerah yang belum menerima bantuan setelah beberapa hari bencana berlangsung. Keluhan masyarakat mengalir deras di media sosial, menggambarkan ketimpangan antara pernyataan resmi pusat dan kondisi nyata masyarakat.

Situasi darurat inilah yang membuat Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, mengambil sikap yang dianggap berani dan tidak lazim dalam struktur birokrasi nasional.

Mualem: “Mereka Datang Menolong, Kenapa Harus Kita Persulit?”

Mualem menegaskan bahwa Pemerintah Aceh tidak akan menolak bantuan internasional, selama bantuan tersebut langsung menyentuh masyarakat yang membutuhkan.

Dengan nada tegas namun penuh empati, ia menyampaikan:

> “Mereka tolong kita, kok kita persulit?”

Pernyataan ini langsung menjadi sorotan publik. Banyak pihak menilai langkah Mualem sebagai bentuk keberanian demi kepentingan kemanusiaan, bukan sekadar mengikuti protokol birokrasi.

Malaysia Negara Pertama yang Tiba di Aceh

Malaysia menjadi pihak pertama yang mengirimkan tim medis dan bantuan darurat ke Aceh. Tanpa menunggu prosedur panjang, bantuan tersebut telah tiba lebih dahulu dan langsung diarahkan ke titik-titik pengungsian.

Kehadiran Malaysia ini menjadi sinyal kuatnya hubungan historis Aceh–Tanah Melayu yang telah terjalin berabad-abad.

Arizal Mahdi: “Jangan Sembunyikan Apa Pun dari Rakyat”

Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas, Arizal Mahdi, ikut menyoroti sikap Pemerintah Pusat yang bersikeras menahan bantuan internasional.

Dalam pernyataannya, Arizal mempertanyakan motif di balik penolakan tersebut:

> “Rahasia apa yang disembunyikan pemerintah pusat sehingga menolak bantuan asing? Jangan sampai kebijakan ini justru mengorbankan rakyat Aceh yang sedang berjuang bertahan hidup.”

Arizal menegaskan bahwa dalam kondisi bencana besar, tidak ada alasan apa pun yang membenarkan penutupan akses bantuan, apalagi ketika nyawa rakyat dipertaruhkan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Malaysia atas respons cepat membantu Aceh.

Netizen: “Kalau Ini di Jawa, Bantuan Sudah Penuh Gudang”

Di media sosial, publik membandingkan respons pemerintah dalam bencana di Aceh dengan bencana di Pulau Jawa. Banyak komentar yang menilai Aceh kembali diperlakukan berbeda.

> “Kalau bencana ini terjadi di Jawa, pemerintah pasti gerak cepat. Tapi ketika di Aceh, semua jadi rumit.”

Aceh kembali merasakan luka lama: perasaan terpinggirkan meskipun memiliki kontribusi besar bagi sejarah dan perjalanan bangsa.

Ketika Ego dan Maruah Berhadapan dengan Nyawa Manusia

Bencana Aceh mengajarkan bahwa ada saatnya pemerintah menjaga martabat negara, tetapi ada waktu yang lebih penting: memprioritaskan keselamatan rakyat di atas segalanya.

Tindakan Mualem membuka pintu bantuan internasional dan suara lantang Arizal Mahdi yang menuntut transparansi adalah panggilan moral bagi pemerintah. Malaysia datang bukan untuk menunjukkan kehebatan, tetapi karena rasa persaudaraan yang tidak pernah putus.

Penutup

Aceh membutuhkan tindakan cepat, bukan perdebatan protokol. Kehadiran bantuan internasional dan keberanian pemimpin daerah merupakan penyelamat di tengah lambannya respons awal.

Semoga Aceh segera bangkit dan pulih. Aamiin.

 

 

Arizal