Jeritan Hati Pantan Nangka : Lansia Sakit dan ODGJ Terabaikan, Huntara Tidak Kunjung Hadir.

Takengon —detikperistiwa.co.id

Kondisi penanganan pascabencana di Pantan Nangka menuai sorotan serius. 11 Warga yang terdampak (Rumah Hanyut) dan 4 warga rentan yang rumahnya rusak Berat akibat bencana hingga kini belum mendapatkan solusi hunian yang layak.

Program hunian sementara (huntara) yang seharusnya menjadi jawaban cepat justru belum dirasakan oleh mereka yang paling membutuhkan.4 warga tersebut adalah 1.Murni (70 Tahun), seorang janda lanjut usia yang sakit-sakitan, 2. Erdiyanto, seorang Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
3.Sangkardi sakit lumpu,4.Katiem 75 tahun usus buntu,5.tumirah 80 tahun hilang ingatan/pikun, Ke lima warga tersebut hidup dalam keterbatasan, tanpa kepastian tempat tinggal yang aman pascabencana.

Aharuddin, tokoh masyarakat Pantan Nangka, menyebut kondisi ini sebagai potret kelalaian dalam penanganan korban bencana, khususnya terhadap kelompok rentan.“Ini menyakitkan. Kita bicara pemulihan bencana, tapi di lapangan justru lansia sakit dan ODGJ yang rumahnya rusak tidak mendapat perhatian. Kalau mereka saja terlewat, berarti ada yang salah secara serius,” ujar Aharuddin.

Menurut Aharuddin, Murni dan Erdiyanto juga Katiem seharusnya menjadi prioritas utama dalam program huntara, bukan justru tertinggal dari daftar penerima bantuan.“Mereka tidak punya kemampuan untuk memperjuangkan haknya sendiri. Negara dan pemerintah daerah harus hadir lebih dulu untuk warga seperti ini, bukan menunggu mereka bersuara,” tegasnya.

Ia juga menyoroti ketimpangan antara laporan penanganan bencana dan realitas di lapangan.Aharuddin menilai program huntara di Pantan Nangka jauh dari harapan masyarakat.“Di atas kertas seolah semuanya berjalan, tapi kenyataannya warga masih bertahan di rumah rusak. Huntara yang dijanjikan belum jelas kapan dan untuk siapa,” katanya.

Aharuddin mendesak pemerintah daerah dan instansi teknis terkait untuk segera melakukan verifikasi ulang data korban, turun langsung ke lokasi, serta memastikan penanganan berbasis kemanusiaan, bukan sekadar administrasi.“Ini bukan soal proyek atau seremonial. Ini soal keselamatan dan martabat manusia. Jangan sampai jeritan hati warga Pantan Nangka hanya menjadi angka dalam laporan,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan,belum ada pernyataan resmi dari instansi terkait mengenai kepastian pembangunan huntara 11 Warga Pantan Nangka dan dua warga tersebut.