Kupang – detikperistiwa.co.id
Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas, Arizal Mahdi, menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus kritik terbuka atas meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang dipicu oleh persoalan paling mendasar dalam akses pendidikan: ketersediaan alat tulis.
Kasus ini mencuat di tengah masih rapuhnya kondisi sosial di sejumlah wilayah timur Indonesia, di mana kemiskinan ekstrem dan keterbatasan akses layanan dasar masih menjadi realitas sehari-hari bagi sebagian warga.
Menurut Arizal, peristiwa tersebut tidak dapat dipahami sebagai kejadian insidental atau sekadar kelalaian administratif. Ia menilai tragedi ini merupakan indikator kegagalan sistemik dalam melindungi anak-anak yang hidup dalam lingkar kemiskinan ekstrem, sekaligus mencerminkan lemahnya jaring pengaman sosial di tingkat lokal.
“Tragedi ini bukan tentang satu anak, melainkan tentang sistem yang membiarkan anak-anak menanggung beban kemiskinan sendirian,” ujar Arizal dalam keterangannya, Selasa (4/2).
Lebih jauh, Arizal secara terbuka menantang narasi kemajuan nasional yang selama ini kerap dikedepankan oleh pemerintah pusat. Ia mempertanyakan makna pembangunan apabila indikator statistik tidak berbanding lurus dengan keselamatan, martabat, dan hak hidup warga paling rentan.
“Kita perlu jujur kepada Presiden dan kepada diri kita sendiri: kemajuan apa yang sesungguhnya telah kita capai, jika seorang anak di pelosok negeri masih dapat kehilangan nyawa karena kebutuhan paling elementer?” tegasnya.
Arizal menilai terdapat jurang struktural antara perencanaan pembangunan dan realitas sosial di lapangan. Program pengentasan kemiskinan dan bantuan pendidikan, kata dia, masih bersifat prosedural, belum sepenuhnya menjangkau keluarga berisiko tinggi secara tepat waktu dan berkelanjutan.
Ia juga menyoroti lemahnya peran kolektif—mulai dari pemerintah daerah, komunitas lokal, hingga institusi sosial dan keagamaan—yang seharusnya berfungsi sebagai sistem peringatan dini terhadap krisis kemanusiaan di tingkat akar rumput.
Sebagai organisasi kemanusiaan lintas wilayah, Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas menegaskan bahwa tragedi semacam ini tidak boleh berhenti pada ungkapan duka atau respons simbolik, melainkan harus diikuti dengan evaluasi kebijakan yang nyata, terukur, dan berpihak pada warga paling lemah.
Dalam konteks global, Arizal mengingatkan bahwa perlindungan anak dan penghapusan kemiskinan ekstrem bukan sekadar agenda nasional, melainkan komitmen universal yang menjadi tolok ukur kredibilitas sebuah negara di mata dunia.
“Pembangunan yang tidak mampu menyelamatkan anak-anaknya bukanlah kemajuan, melainkan ilusi yang dibayar dengan nyawa,” ujarnya.
Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas mendesak dilakukannya evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pendataan warga miskin, distribusi bantuan pendidikan, serta sistem perlindungan anak agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
“Negara yang benar-benar maju adalah negara yang tidak membiarkan satu pun anaknya gugur dalam sunyi,” tutup Arizal.
#SiswaSD #NTT #Ngada
#RelawanPeduliRakyatLintasBatas
#PerlindunganAnak #KegagalanSistemik
#EvaluasiPembangunan #NusantaraTV
Detik Peristiwa


