Aceh Utara – detikperistiwa.co.id
Krisis air bersih yang melanda Gampong Paya Tukai pasca banjir mendorong Mahasiswa KKN Relawan Teknik Industri Universitas Malikussaleh Kelompok 3 menghadirkan solusi berbasis teknologi sederhana namun efektif. Mahasiswa membangun sistem filtrasi pada tandon air utama desa yang kini dimanfaatkan oleh sekitar 100 kepala keluarga.
Keterbatasan pasokan air bersih sebelumnya menjadi persoalan serius bagi warga. Air yang tersedia kerap keruh dan kurang layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Menjawab permasalahan tersebut, mahasiswa menerapkan sistem penyaringan menggunakan tiga material utama, yakni pasir silika, batu zeolit, dan arang.
Penanggung Jawab Program Filtrasi Air, Muhammad Ijlal, menjelaskan bahwa pemilihan material dilakukan berdasarkan efektivitasnya dalam menyaring partikel kotoran dan meningkatkan kualitas air.
“Kami merancang sistem filtrasi yang sederhana namun tepat guna, agar mudah dirawat dan dapat digunakan secara berkelanjutan oleh masyarakat. Selain pemasangan, kami juga melakukan demonstrasi langsung kepada warga mengenai cara kerja dan perawatannya,” jelasnya.
Demonstrasi dilakukan saat warga mengambil air dari tandon, sehingga masyarakat dapat langsung memahami proses penyaringan dan manfaatnya.
Salah satu warga mengungkapkan rasa syukurnya atas program tersebut.
“Sekarang airnya lebih jernih dan tidak berbau seperti sebelumnya. Kami sangat terbantu, apalagi air ini digunakan oleh banyak keluarga,” ujarnya.
Geuchik Gampong Paya Tukai juga menilai program ini sebagai langkah strategis dalam membantu pemulihan desa pasca banjir.
“Air bersih adalah kebutuhan dasar masyarakat. Kehadiran mahasiswa dengan solusi filtrasi ini sangat berarti bagi warga kami,” katanya.
Program ini diharapkan mampu menjadi solusi jangka menengah sembari desa berupaya memperbaiki sistem distribusi air bersih secara menyeluruh.
(Y)


