Membangun Jeneponto dari Masjid: Dakwah Terpadu sebagai Pilar Kebangkitan Sosial dan Peradaban Turatea

Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd

Batam – detikperistiwa.co.id

Ketua Yayasan Dewan Dakwah Turatea Indonesia jeneponto bukanlah daerah yang miskin nilai, apalagi miskin harapan. Ia lahir dari sejarah panjang masyarakat Turatea yang religius, tangguh, dan memiliki solidaritas sosial yang kuat. Masjid, surau, dan majelis taklim sejak dahulu menjadi pusat kehidupan masyarakat, tempat nilai-nilai keislaman ditanamkan sekaligus ruang bertemunya persoalan sosial dan solusi bersama. Namun dalam perjalanan waktu, dinamika pembangunan nasional yang begitu cepat membuat Jeneponto masih tertinggal di sejumlah sektor strategis. Realitas ini menuntut sebuah cara pandang baru: pembangunan Jeneponto tidak cukup hanya bertumpu pada pendekatan ekonomi dan infrastruktur, tetapi harus dibangun dari penguatan nilai, manusia, dan peradaban—yang salah satunya berakar kuat dari masjid.

Pembangunan yang berkelanjutan selalu dimulai dari kualitas manusianya. Jalan dan gedung dapat dibangun dalam hitungan tahun, tetapi membangun manusia membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan arah yang jelas. Pendidikan di Jeneponto harus dipahami sebagai proses memanusiakan manusia, bukan sekadar rutinitas administratif. Sekolah, madrasah, dan pesantren perlu diperkuat agar mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial. Ketika pendidikan berjalan seiring dengan pembinaan moral dan spiritual, maka lahirlah sumber daya manusia yang siap mengelola pembangunan secara jujur dan bertanggung jawab.

Dalam bidang ekonomi, masyarakat Jeneponto sejatinya hidup di atas potensi besar, khususnya di sektor pertanian, peternakan, dan kelautan. Persoalan utamanya bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada lemahnya sistem pengelolaan dan rendahnya nilai tambah. Pembangunan ekonomi harus diarahkan pada pemberdayaan rakyat, bukan sekadar pertumbuhan angka. Petani dan peternak perlu didampingi, diberi akses pengetahuan dan permodalan, serta didorong untuk mengembangkan produk olahan lokal. Di sinilah nilai-nilai dakwah dapat berperan, menumbuhkan etos kerja, kejujuran, dan semangat kemandirian sebagai fondasi ekonomi umat.

Pembangunan infrastruktur tetap penting, tetapi harus dimaknai sebagai sarana pelayanan dan pembuka jalan perubahan sosial. Infrastruktur yang dibangun tanpa ruh keadilan dan keberpihakan hanya akan melahirkan ketimpangan baru. Oleh karena itu, pembangunan harus direncanakan dengan mendengar suara masyarakat, agar benar-benar menjawab kebutuhan riil dan memperkuat konektivitas antarwilayah. Infrastruktur yang adil dan merata akan mempercepat pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat rasa keadilan sosial.

Kemajuan Jeneponto juga sangat ditentukan oleh tata kelola pemerintahan yang berintegritas. Pemerintahan yang baik bukan hanya soal regulasi, tetapi soal kehadiran negara dalam melayani rakyatnya. Aparatur harus bekerja dengan profesionalisme, kejujuran, dan empati sosial. Ketika kepercayaan masyarakat tumbuh, maka partisipasi publik dalam pembangunan akan menguat. Dalam konteks inilah nilai-nilai agama dan dakwah menjadi penguat moral bagi penyelenggara pemerintahan dan masyarakat secara luas.

Dakwah memiliki posisi strategis dalam menata kehidupan sosial Jeneponto. Dakwah tidak boleh dipersempit hanya sebagai ceramah rutin, tetapi harus hadir sebagai gerakan pencerahan dan pembebasan. Banyak persoalan masyarakat—mulai dari rendahnya kesadaran pendidikan, problem remaja, kemiskinan struktural, hingga melemahnya solidaritas sosial—membutuhkan sentuhan dakwah yang membumi dan solutif. Dakwah yang baik akan melahirkan kesadaran, dan kesadaran adalah pintu awal perubahan.

Di sinilah peran penting Yayasan Dewan Dakwah Turatea Indonesia sebagai lumbung muballigh menemukan relevansinya. Yayasan ini diharapkan menjadi pusat pembinaan dan pengkaderan muballigh yang memiliki pemahaman keislaman yang moderat, wawasan kebangsaan yang kuat, serta kepekaan sosial yang tinggi. Muballigh tidak hanya disiapkan untuk mengisi mimbar, tetapi juga untuk menjadi pendamping umat, penuntun moral, dan agen perubahan sosial. Dengan pembinaan yang terarah, dakwah di Jeneponto dapat berjalan dalam satu visi dan satu arah.

Gagasan “satu arah masjid untuk semua muballigh” menjadi fondasi penting dalam memperkuat persatuan umat. Masjid harus menjadi rumah besar yang mempersatukan, bukan ruang yang memecah belah. Perbedaan latar belakang organisasi dan pemahaman fikih seharusnya menjadi kekayaan, bukan sumber konflik. Yayasan Dewan Dakwah Turatea Indonesia berperan sebagai simpul pemersatu, memastikan bahwa dakwah di masjid-masjid Jeneponto berjalan seiring, saling melengkapi, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Generasi muda Jeneponto juga harus menjadi bagian utama dari agenda kebangkitan ini. Mereka adalah pewaris masa depan daerah. Melalui pembinaan dakwah yang inklusif dan berwawasan ke depan, generasi muda dapat tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri, kreatif, dan berdaya saing, tanpa kehilangan akar nilai keislaman dan budaya Turatea. Masjid dan lembaga dakwah harus menjadi ruang ramah bagi anak muda untuk belajar, berdialog, dan berkontribusi.

Akhirnya, membangun Jeneponto agar sejajar dengan daerah lain di Indonesia adalah ikhtiar panjang yang membutuhkan kesatuan arah dan kesungguhan bersama. Dengan menjadikan masjid sebagai pusat peradaban, dakwah sebagai pilar perubahan sosial, serta Yayasan Dewan Dakwah Turatea Indonesia sebagai lumbung muballigh yang mempersatukan langkah umat, Jeneponto memiliki fondasi kokoh untuk bangkit. Inilah jalan peradaban yang harus dirawat bersama, demi terwujudnya Jeneponto yang religius, adil, sejahtera, dan bermartabat.