Lintongnihuta – detikperistiwa.co.id
Sebanyak 12 siswa SMP Negeri 3 Lintongnihuta UPTN 016, Desa Nagasaribu V, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), diduga mengalami reaksi alergi usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Informasi yang dihimpun menyebutkan, para siswa yang terdampak terdiri dari 6 siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan.
Dugaan sementara, reaksi tersebut muncul setelah para siswa menyantap menu MBG berupa ikan laut. Makanan dalam program itu diketahui berasal dari salah satu SPPG Yayasan Holong Ondolan.
Kepala SMP Negeri 3 Lintongnihuta, Heppy Naibaho, disebut telah mengetahui kejadian tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Humbahas, Martahan Panjaitan, membenarkan adanya insiden tersebut. Ia menyampaikan, dari total siswa yang terdampak, sebelumnya ada dua siswa yang sempat mengalami kondisi lebih serius dan harus mendapatkan penanganan medis.
“Memang benar ada 12 siswa yang mengalami gejala usai mengonsumsi makanan MBG. Sebelumnya ada dua siswa yang sempat mengalami kondisi lebih serius dan harus mendapat penanganan medis, namun hari ini keduanya sudah membaik dan kembali ke sekolah,” ujar Martahan Panjaitan.
Ia menambahkan, terhadap siswa yang terdampak juga telah dilakukan pemeriksaan darah di rumah sakit sebagai bagian dari penanganan awal.
“Di rumah sakit juga sudah dilakukan pemeriksaan darah terhadap siswa yang terdampak. Namun, untuk penyebab pastinya kami belum bisa menyimpulkan, karena sampel makanan dan muntahan siswa saat ini masih dibawa ke Medan untuk diuji di laboratorium,” lanjutnya.
Menurutnya, hingga saat ini kesimpulan sementara yang dapat disampaikan masih sebatas dugaan reaksi alergi, sambil menunggu hasil resmi pemeriksaan laboratorium.
“Jadi, kesimpulan sementara yang bisa kita sampaikan saat ini masih sebatas dugaan reaksi alergi. Kita menunggu hasil resmi pemeriksaan laboratorium,” tegasnya.
Dalam upaya menghimpun informasi lebih lanjut, awak media juga sempat mendatangi dapur penyedia MBG yang diduga memasok makanan ke sekolah tersebut. Namun, saat dikunjungi, kondisi dapur dalam keadaan tertutup dan belum diperoleh keterangan langsung dari pihak pengelola.
Kondisi tersebut menambah perhatian publik, mengingat dalam situasi seperti ini keterbukaan informasi sangat dibutuhkan, terutama terkait proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan yang dikonsumsi para siswa.
Insiden ini pun memunculkan sorotan terhadap standar keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG, khususnya pada menu yang berpotensi memicu alergi bagi anak-anak sekolah.
Publik kini menunggu hasil resmi uji laboratorium serta klarifikasi lengkap dari pihak sekolah, pengelola SPPG Yayasan Holong Ondolan, dan instansi terkait mengenai penyebab pasti kejadian tersebut, proses pengolahan dan distribusi makanan, serta langkah evaluasi agar peristiwa serupa tidak terulang.
(DP/L.Tamp)


