Merawat Batam dengan Dialog dan Kebersamaan

Oleh Wahyu Wahyudin, S.E., M.M. Sekretaris Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Riau

Batam – detikperistiwa.co.id

Batam tidak pernah dibangun semata-mata oleh deru mesin industri, deretan gedung tinggi, atau arus investasi yang masuk dari berbagai penjuru. Kota ini tumbuh dan bertahan karena satu fondasi utama yang sering luput dari perhatian, yakni semangat kebersamaan masyarakatnya. Sejak awal, Batam adalah ruang perjumpaan banyak latar belakang suku, agama, budaya, dan pandangan hidup yang memilih untuk hidup berdampingan dalam satu ikatan sosial yang harmonis. Karena itu, menjaga Batam pada hakikatnya adalah menjaga persaudaraan yang telah dirajut dengan kesabaran dan pengorbanan oleh generasi-generasi sebelumnya.

Dalam kehidupan masyarakat yang semakin dinamis, perbedaan sikap dan pandangan merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan. Perbedaan adalah ciri dari masyarakat demokratis yang sehat. Namun, perbedaan tersebut harus dikelola dengan kedewasaan dan tanggung jawab bersama. Dialog, musyawarah, dan komunikasi yang sehat harus selalu menjadi jalan utama dalam menyikapi setiap persoalan. Ketika emosi dikedepankan, ujaran kebencian dibiarkan tumbuh, dan adu domba dijadikan alat, maka yang terancam bukan hanya hubungan antarindividu, tetapi juga sendi-sendi kebersamaan yang selama ini menjadi kekuatan Batam.

Sejarah Batam mengajarkan bahwa kemajuan hanya dapat diraih melalui kerja sama. Kota ini berkembang karena adanya kepercayaan dan kesediaan untuk saling mendengar serta saling menghargai. Oleh sebab itu, membangun budaya komunikasi yang sehat bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Setiap persoalan, baik yang berskala besar maupun kecil, perlu disikapi dengan kepala dingin dan hati yang terbuka. Dengan cara itulah solusi yang lahir tidak bersifat sepihak, melainkan benar-benar mencerminkan kepentingan bersama.

Stabilitas dan kedamaian sosial tidak hadir secara otomatis. Ia harus dijaga secara sadar, terus-menerus, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Ketika persaudaraan dirawat dengan baik, maka keamanan dan ketertiban akan terpelihara. Sebaliknya, jika perbedaan dibiarkan menjadi komoditas provokasi, yang dirugikan bukan hanya kelompok tertentu, melainkan seluruh masyarakat Batam. Rasa aman akan terkikis, kepercayaan melemah, dan pembangunan pun terhambat.

Menjaga Batam agar tetap aman, damai, dan harmonis adalah tanggung jawab kolektif. Pemerintah, DPRD, aparat keamanan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan seluruh warga harus berjalan seiring. Tidak boleh ada pihak yang merasa paling benar atau paling berhak menentukan arah tanpa mendengar suara yang lain. Musyawarah adalah jalan tengah yang telah lama menjadi kearifan bangsa ini, sekaligus mekanisme paling adil untuk meredam konflik dan memperkuat keadilan sosial.

Batam akan selalu kuat karena persatuan. Batam akan terus maju karena kebersamaan. Selama nilai-nilai dialog, saling menghormati, dan persaudaraan dijaga, Batam tidak hanya akan berkembang sebagai kota industri dan perdagangan, tetapi juga tumbuh sebagai kota yang beradab, manusiawi, dan memberi rasa aman bagi seluruh warganya. Inilah semangat yang harus terus dirawat demi masa depan Batam dan Kepulauan Riau yang lebih sejahtera dan bermartabat.