Operasi Keselamatan Pallawa 2026 Berakhir, Program Polantas “Mappatabe” Berhasil Tekan Angka Kecelakaan

Makassar, detikperistiwa.co.id – Polda Sulawesi Selatan resmi mengakhiri Operasi Keselamatan Pallawa 2026 yang berlangsung sejak 2 hingga 15 Februari 2026.

Operasi berskala nasional ini menitikberatkan pendekatan preemtif dan preventif berbasis kearifan lokal “Mappatabe” guna menekan pelanggaran serta fatalitas kecelakaan lalu lintas.

Berdasarkan data Ditlantas Polda Sulsel, kegiatan penyuluhan tertib lalu lintas tercatat 3.295 kali atau naik 251 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sosialisasi keselamatan berkendara mencapai 8.288 kegiatan atau meningkat 2506 persen, sedangkan kampanye keselamatan sebanyak 1.055 kegiatan atau naik 654 persen.

Edukasi digital dilakukan 74.986 kali dan program police goes to school 1.069 kali.

Adapun di sisi preventif, pengaturan jam rawan mencapai 40.624 kali atau naik 100 persen , serta kehadiran di titik rawan 14.642 kali atau meningkat 1553 persen.

Sementara itu, untuk pemeriksaan kendaraan dilakukan 3.532 kali dan ramp check 2.537 kali atau naik 230 persen.

Penegakan hukum menerapkan model hybrid. Tilang elektronik (ETLE) tercatat 1.573 pelanggaran atau naik 8141 persen. Teguran sebanyak 9.081 pelanggaran atau meningkat 131.799 persen.

Selain itu, tilang konvensional turun menjadi 309 perkara atau menurun 749 persen.

Operasi ini juga mencatat penurunan travel gelap menjadi 87 kasus atau turun 1135 persen, serta pelanggaran over dimensi dan over loading (ODOL) sebanyak 74 kasus atau menurun 1169 persen.

Untuk angka kecelakaan, tercatat 273 kasus atau turun 7 persen. Korban meninggal dunia 18 orang atau menurun 36 persen, luka ringan 335 orang atau turun 13 persen, serta kerugian material Rp385.850.000 atau turun 5 persen.

Namun korban luka berat naik menjadi 22 orang atau meningkat 425 persen.

Direktur Lalu Lintas Polda Sulsel Kombes Pol. Dr. Pria Budi, S.H,M.H, Senin (16/02/2026), menegaskan sembilan pelanggaran prioritas menjadi fokus utama operasi.

“Operasi ini secara tegas menyasar pelanggaran yang berpotensi menyebabkan kecelakaan fatal, seperti knalpot brong, kendaraan tidak sesuai standar, penggunaan sirene dan rotator ilegal, TNKB palsu, kendaraan pribadi dijadikan angkutan umum, hingga pengendara motor tanpa helm atau berboncengan lebih dari satu orang,” ujar Dr. Pria Budi

Ia menekankan, pendekatan Mappatabe tidak hanya berorientasi pada penindakan, tetapi juga edukasi yang persuasif.

“Kami mengedepankan langkah preemtif dan preventif. Penindakan tetap ada, namun humanis. Itu sebabnya tilang konvensional menurun, sementara teguran dan ETLE meningkat signifikan,” kata Dr.Pria Budi.

Menurutnya, hasil Operasi Keselamatan Pallawa 2026 menjadi pijakan awal menghadapi Operasi Ketupat 2026 menjelang arus mudik Lebaran.

“Capaian ini menjadi fondasi untuk menekan fatalitas pada Operasi Ketupat mendatang. Strategi Mappatabe terbukti efektif membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam berlalu lintas,” tegas Dr. Pria Budi.(niar ch)