Riau – detikperistiwa.co.id
Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis, Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain AFEBSKID Provinsi Kepulauan Riau
Grup WhatsApp itu mendadak hidup menjelang subuh. Jam menunjukkan pukul 04.27 ketika sebuah pesan masuk dan memecah keheningan pagi. Yuk kita kumpul kumpul di Makassar sesudah lebaran kk. Begitulah gaya khas Indrawati, singkat, hangat, dan langsung menggerakkan rindu yang lama terpendam. Saya yang sedang menyesap kopi hanya membalas satu kata, boleh. Tidak saya sangka, satu kata sederhana itu menjadi pemantik percakapan panjang yang riuhnya seperti pasar pagi.
Sejak itu grup berubah menjadi ruang temu virtual yang penuh canda. Ada yang menyapa dengan panggilan Pak DR Muda Turatea, ada pula yang keliru mengira saya baru saja lulus sebagai dokter medis. Turut berbangga Anda mencapai study program Dokter Anda hebat, tulis seorang sahabat dengan tulus. Saya tersenyum lalu membalas pelan, bukan Dokter tapi Doktor. Seketika balasan berdatangan. Masya Allah mantep Pak DR. Sejak saat itu setiap beberapa pesan selalu terselip panggilan Pak DR dengan nada yang beragam, kadang penuh hormat, kadang setengah menggoda. Gelar akademik itu seakan berubah menjadi nama panggilan yang akrab.
Rencana reuni pun menggelinding cepat. Ada yang mengusulkan di rumah Pak Jafar sambil bakar bakar ikan. Ada yang menyarankan rumah makan Wong Solo di Alauddin karena dianggap lebih aman dan terkendali. Indrawati menawarkan Ulu Juku dengan tambahan fasilitas karaoke agar nostalgia semakin lengkap. Bahkan ada yang berkhayal mengadakan pertemuan di tempat permandian sambil memanggang ikan, seolah reuni akademik itu akan bertransformasi menjadi perkemahan keluarga besar.
Di tengah ramainya usulan muncul pesan bijak yang mengundang senyum. Pelan pelan maki eh. Lalu disambung dengan kalimat yang terdengar seperti petuah hidup. Biar pelan namun pasti terarah mencapai harapan. Kami tertawa membaca itu. Grup ini memang selalu memadukan keseriusan dan kelakar dalam satu tarikan napas.
Ketika percakapan mulai melambat, saya melempar pertanyaan tentang kenangan lucu masa S2. Seketika nostalgia menyeruak. Seorang sahabat menulis bahwa dulu kami datang seminggu sekali untuk tatap muka lalu kembali ke kampung masing masing. Banyak orang mengira kami pulang untuk beristirahat. Padahal kenyataannya berbeda. Kami pulang membawa tugas mandiri dan tugas kelompok yang menunggu diselesaikan. Rumah bukan tempat berleha leha, melainkan cabang kecil kampus dengan meja makan yang berubah menjadi meja penelitian.
Setiap menjelang pertemuan berikutnya suasana hati terasa seperti menjelang ujian nasional. Diskusi kelas bukan sekadar bertukar pikiran tetapi ajang mempertanggungjawabkan bacaan dan analisis. Nilai terasa seperti udara, tak terlihat tetapi sangat menentukan kenyamanan bernapas.
Kami teringat pada dosen dosen yang masih menggunakan OHV. Suara dengung alat itu menjadi latar musik khas setiap perkuliahan. Lembaran transparansi digeser satu per satu. Kadang terbalik, kadang jatuh ke lantai. Ketua kelas paling sibuk, berdiri membantu merapikan lembaran yang meluncur. Pernah suatu ketika transparansi tercecer dan seorang teman menahan tawa sambil berbisik bahwa teori pun bisa tersandung jika tidak hati hati. Seisi kelas pun pecah oleh tawa yang menyejukkan suasana.
Ada pula kisah tentang presentasi yang hampir gagal karena semalaman tidak tidur. Seorang teman berdiri dengan mata memerah tetapi berbicara penuh keyakinan seolah baru saja menyelesaikan kajian lima jurnal internasional. Setelah kelas selesai ia mengaku hampir stres karena tugas belum sepenuhnya tuntas. Kami tertawa bukan untuk mengejek melainkan untuk menguatkan.
Pembagian tugas kelompok selalu diawali dengan semangat tinggi. Namun ketika tenggat mendekat grup percakapan mendadak sunyi. Lalu muncul kalimat legendaris yang diwariskan dari generasi ke generasi mahasiswa, maaf baru lihat pesan. Ajaibnya di detik terakhir naskah lengkap tersusun dan siap dipresentasikan. Ketegangan berubah menjadi kebanggaan ketika dosen mengangguk puas.
Kini setelah bertahun tahun berlalu, semua kisah itu kembali hidup di layar ponsel. Gelar doktor yang saya raih menjadi alasan tambahan bagi sahabat sahabat untuk menggoda dan menyemangati. Mereka menulis ucapan selamat dengan gaya khas masing masing. Ada yang formal penuh doa, ada yang tetap jenaka. Seseorang menulis bahwa dulu kita berjuang dengan transparansi kini berjuang dengan promotor dan penguji. Tawa kembali mengalir walau hanya lewat pesan singkat.
Saya menyadari bahwa reuni yang direncanakan itu bukan sekadar pertemuan fisik. Ia adalah perayaan atas perjalanan panjang yang pernah kami tempuh bersama. Kami merayakan masa ketika tugas terasa berat, ketika tidur sering dikorbankan, ketika diskusi memanas namun tetap berakhir dengan saling menghormati. Kami merayakan persahabatan yang lahir dari tekanan akademik.
Mungkin nanti kami benar benar berkumpul di sebuah rumah makan atau di tepi pantai dengan ikan bakar yang mengepul harum. Bisa jadi ikan itu sedikit gosong karena terlalu asyik bercerita. Bisa jadi saya kembali dipanggil dokter dan harus mengulang penjelasan tentang perbedaan istilah itu. Namun yang pasti tawa lama akan hidup kembali, menyatu dengan aroma laut dan angin senja Makassar.
Pelan pelan tapi pasti kami melangkah menuju pertemuan itu. Seperti perjalanan akademik yang pernah kami jalani, tidak selalu cepat tetapi selalu sarat makna. Dan saya yakin ketika hari itu tiba, kami akan menyadari bahwa waktu boleh berlalu, jarak boleh memisahkan, tetapi persahabatan yang ditempa oleh perjuangan tidak pernah benar benar pudar.


