Pembangunan Jembatan Bailey di Lintas Bireuen–Takengon Dikebut 24 Jam, Harapan Warga Tepi Mane Mulai Menyala

Bireuen | detikperistiwa.co.id

Udara pegunungan yang lembap dan tanah becek sisa banjir besar masih menyimpan jejak luka di Tepi Mane, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Pada malam hari, ketika sebagian desa terlelap, dentingan besi dan deru mesin terus menggema dari tepi sungai. Di bawah sorot lampu darurat, prajurit Batalyon Zeni Tempur 16/DA, Kodam Iskandar Muda bekerja tanpa jeda merakit Jembatan Bailey, sebuah ikhtiar yang berpacu dengan waktu dan cuaca.

Sejak jembatan utama tersapu derasnya banjir, kehidupan masyarakat berubah seketika. Anak-anak sekolah, para pekerja, hingga pasien rujukan terpaksa menyeberangi sungai dengan boat darurat yang kecil dan rawan terbalik. Para pedagang kehilangan jalur utama menuju pasar, membuat denyut ekonomi desa melemah dari hari ke hari. Setiap aktivitas menjadi perjuangan harian.

Di tengah pekerjaan yang berlangsung 24 jam itu, Lettu Czi Sapar Linudin memimpin perakitan dengan ketegasan yang tenang. Ia mengawasi setiap panel baja yang diangkat dan setiap baut yang dikencangkan, memastikan tidak ada kesalahan sekecil apa pun yang dapat menghambat pemulihan akses warga.

“Insya Allah dalam tiga sampai empat hari sudah bisa kita sambungkan. Masyarakat tidak boleh menunggu terlalu lama, karena ini urat nadi mereka,” ujarnya saat ditemui Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas, Arizal Mahdi, yang meninjau langsung lokasi pembangunan pada Kamis pagi, 11 Desember 2025.

Di pinggir sungai, sejumlah warga terlihat duduk menunggu sambil memandangi arus yang masih deras. Seorang ibu bercerita bahwa setiap pagi ia harus mengantar anaknya menggunakan boat darurat agar putranya tidak tertinggal sekolah.

“Kalau jembatan ini siap, kami bisa bernapas lega lagi… hidup kami bisa kembali normal,” ujarnya perlahan, suaranya tertelan denting baja yang terus bersahutan.

Sebagai relawan kemanusiaan, Arizal Mahdi menegaskan bahwa jembatan ini bukan sekadar struktur fisik yang menghubungkan dua sisi sungai.

“Ini penghubung kehidupan. Tanpa jembatan, pendidikan terputus, ekonomi berhenti, dan kesehatan warga terancam. Kita sangat menghargai pengabdian para prajurit yang bekerja siang dan malam dengan sepenuh hati,” katanya.

Jembatan Bailey, jembatan modular berbahan baja ringan yang dapat dipasang cepat tanpa alat berat, kini dirakit panel demi panel. Setiap kepingan yang terpasang ibarat merangkai kembali harapan warga Tepi Mane yang sempat tercerabut.

Jika cuaca bersahabat, dalam beberapa hari ke depan jalur Bireuen–Takengon akan kembali pulih. Jalan yang sebelumnya terputus akan kembali menjadi akses menuju sekolah, pasar, rumah sakit, dan seluruh denyut kehidupan masyarakat.

Malam itu, dentuman besi masih terdengar. Di balik setiap panel yang dirapatkan dan setiap kunci yang ditarik, mengalir doa-doa warga — doa agar mereka tidak lagi bergantung pada boat darurat, dan agar hidup mereka dapat kembali utuh, sedikit demi sedikit.

 

 

 

(Arizal)