Daerah  

Perbaikan Gizi Bukan Sekadar Teknis: Tantangan Komunikasi Jadi Fokus Rakor SPPG MBG 3B di Jember

Detikperistiwa.co.id / Jember 

Di tengah upaya percepatan penanganan gizi keluarga, Kabupaten Jember kembali menegaskan bahwa masalah gizi tidak hanya dapat diselesaikan dengan anggaran, SOP, atau intervensi teknis semata. Hal ini mengemuka dalam Rapat Koordinasi Program SPPG MBG 3B yang digelar di Hotel Luminor Jember, Kamis 11 desember 2025.Dalam acara yang dihadiri para Kepala SPPG, Penyuluh KB dan Tim Balai KB kecamatan, praktisi komunikasi publik dan branding, Andi Suprapto,S.Sos.,L.M.,M.Si menegaskan bahwa kegagalan program gizi sering terjadi bukan karena salah perhitungan teknis, tetapi karena lemahnya komunikasi di lapangan “Gizi itu teknis. Tapi perubahan perilaku itu komunikasi,” ujar Andi mengawali paparannya.

Menurutnya, selama ini terdapat jurang yang cukup lebar antara bahasa program dengan bahasa masyarakat. Hal ini menyebabkan pesan-pesan gizi tidak sampai dengan benar atau tidak berubah menjadi tindakan nyata di tingkat keluarga, terutama pada kelompok sasaran 3B: bumil, busui, dan balita non-PAUD.

a.Kesalahan Lama: Program Bagus, Pesan Tidak Saling Terkait
Andi menyebut banyak program sudah berjalan sangat baik secara administratif, namun tidak memberi efek signifikan di tingkat keluarga. Sebab utama dari masalah ini adalah fragmentasi pesan. “Di Jember, kita pernah melihat ada tiga versi berbeda tentang takaran MPASI, dua versi tentang makanan untuk ibu hamil, bahkan narasi ASI eksklusif yang tidak konsisten di setiap lini layanan,” jelasnya. Ketidaksinkronan informasi ini diperparah dengan masuknya berbagai sumber lain seperti iklan komersial, konten media sosial, hingga kepercayaan keluarga yang sering kali lebih dipercaya oleh masyarakat daripada tenaga kesehatan.

b.Tantangan Komunikasi di Lapangan: Setiap Kelompok Punya Bahasa Sendiri
Dalam sesi wawancara dengan beberapa wartawan setelah acara, Andi mengurai karakter komunikasi masing-masing kelompok sasaran; (1)Ibu Hamil (Bumil); Ibu hamil adalah kelompok paling rentan terhadap mitos dan misinformasi. Mereka cenderung percaya pada tokoh yang dianggap dekat: ibu kandung, mertua, atau dukun bayi. Mitos seperti “makan banyak bikin bayi besar dan susah lahiran” masih banyak ditemukan. “Ini bukan sekadar masalah literasi. Ini masalah struktur komunikasi keluarga,” ujar Andi;(2) Ibu Menyusui (Busui), Pada busui, tantangan terbesar adalah tekanan sosial dan paparan pesan komersial. Banyak ibu menyusui yang merasa “ASI seret” bukan karena masalah fisiologis, tetapi karena keyakinan psikologis yang diperkuat iklan susu formula. “Iklan formula masuk lebih cepat dari penyuluhan puskesmas. Itu fakta lapangan,” katanya;(3) Balita Non-PAUD, Kelompok ini jarang tersentuh program formal seperti PAUD atau posyandu terpadu. Orang tua mereka tidak memiliki rujukan komunikasi yang stabil. Akibatnya, perkembangan anak sering tidak terpantau;(4) Lintas Sektor, Perbedaan bahasa antar lembaga—puskesmas, kader, desa, dan PKK sering membuat informasi tidak linier.

“Bahasa kesehatan, bahasa desa, bahasa program, dan bahasa ibu-ibu tidak sama. Di sinilah gap komunikasi itu muncul,” tambah Andi.

c. Kerangka Komunikasi: “Konvergensi Gizi” Sebagai Pendekatan Baru
Di hadapan peserta rakor, Andi memperkenalkan pendekatan Komunikasi Konvergensi Gizi yang menekankan empat pilar utama;1) komunikasi yang Menyamakan Makna (Shared Meaning) Semua pihak harus menyampaikan pesan yang sama, mulai dari bidan, kader, hingga perangkat desa. Tidak boleh ada versi berbeda mengenai:makanan ibu hamil, takaran MPASI,manfaat ASI eksklusif,atau layanan posyandu; 2) komunikasi Berbasis Data, Data lokal diperkuat sebagai fondasi persuasi: jumlah bumil risiko KEK,angka stunting per desa,capaian intervensi SPPG. Menurut Andi, data membuat pesan lebih dipercaya; 3) Komunikasi Berbasis Budaya, Setiap wilayah memiliki norma unik. Dalam konteks Jember, peran dukun bayi, tokoh agama, hingga pengasuh keluarga (mbah putri/mertua) sangat besar. “Jangan memusuhi budaya. Rangkul, lalu arahkan,” ujarnya; 4) Komunikasi Persuasif untuk Perubahan Perilaku (AIC), model AIC—Awareness, Interest, Change—dianggap paling tepat.“Banyak program hanya berhenti di awareness, tidak pernah naik ke perubahan perilaku.”

Pada Kesempatan itu juga kepada peserta rakor dan wartawan, Andi menegaskan satu hal penting: komunikasi adalah intervensi itu sendiri, bukan pelengkap program gizi. Menurutnya, Jember memiliki modal sosial kuat—kader aktif, bidan desa yang responsif, serta peran ibu-ibu PKK yang besar. Namun potensi itu tidak akan optimal jika tidak disatukan dalam bahasa yang mudah dimengerti masyarakat.

“Adapun Program SPPG ini teknis. Tapi keberhasilannya ditentukan oleh kualitas komunikasinya. Konsistensi pesan lebih berpengaruh daripada banyaknya anggaran,” tegasnya.

d.Catatan Penting: Istilah Ilmiah Harus Dibumikan
Di bagian akhir wawancara, Andi memberikan penekanan khusus yang menjadi garis bawah acara Rakor SPPG MBG 3B kali ini: “Tantangan terbesar bukan hanya mengubah perilaku, tapi menyederhanakan bahasa kesehatan yang terlalu teknis. Istilah ilmiah harus dibumikan. Disampaikan dengan bahasa yang hidup di dapur, ruang tamu, dan obrolan ibu-ibu.”

Ia Juga memberikan contoh bagaimana istilah gizi seperti protein hewani, anemia, MPASI adekuat, atau KEK sering kali tidak dipahami masyarakat. Andi menegaskan bahwa: “Tugas para komunikator gizi adalah menerjemahkan istilah tersebut menjadi bahasa yang: membumi, sehari-hari,relevan,dan mudah dicerna. Karena pada akhirnya, program gizi kuat tidak hanya membutuhkan data yang benar, tetapi juga Bahasa komunikasi yang tepat dan merangkul Masyarakat yang menjadi komunikannya.”

Sugiyanto
Kabiro Jember