Petani di Linge Keluhkan Padi Tak Kunjung Berbuah, Babinsa Turun Tangan

Aceh Tengah – detikperistiwa.co.id

Seorang petani di Desa Kute Riyem, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, melaporkan tanaman padinya yang tak kunjung berbunga kepada Bintara Pembina Desa (Babinsa), Serka Adang Sukmana, pada Kamis (5/6). Keluhan ini disampaikan oleh Bapak Salim, yang merasa tanamannya berbeda dari padi milik petani lain yang sudah hampir siap panen.

Menanggapi laporan tersebut, Babinsa Serka Adang Sukmana segera turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan langsung di lahan persawahan. Setelah melakukan observasi, ia menemukan bahwa varietas bibit padi yang digunakan Bapak Salim berbeda dari yang umum ditanam di wilayah tersebut.

“Petani ini menanam bibit padi jenis 7 bulan, sedangkan mayoritas petani di Kecamatan Linge biasanya menggunakan varietas padi Inpari 28 atau Inpari 38, yang memiliki masa panen sekitar tiga bulan lebih,” jelas Serka Adang di sela-sela kunjungannya.

Perbedaan jenis bibit ini diduga menjadi penyebab utama keterlambatan pertumbuhan dan pembungaan padi. Selain masa tanam yang lebih lama, bibit padi 7 bulan dinilai kurang cocok dengan kondisi geografis dan karakteristik tanah di dataran tinggi seperti di wilayah Linge.

Serka Adang mengimbau para petani agar lebih cermat dalam memilih bibit yang sesuai dengan ketinggian lahan serta jenis tanah. Ia juga menyarankan agar para petani mengikuti arahan dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) maupun Kejurun Blang yang memahami kondisi pertanian lokal.

“Memilih bibit yang tepat sangat menentukan hasil panen. Kami harap para petani bisa berkonsultasi lebih dahulu dengan penyuluh pertanian sebelum menanam,” tambahnya.

Kegiatan pendampingan yang dilakukan Babinsa merupakan bagian dari tugas TNI dalam mendukung ketahanan pangan di daerah. Babinsa juga berperan aktif membantu penyuluhan kepada petani agar kegiatan pertanian berjalan optimal.

Kasus yang dialami Bapak Salim menjadi pengingat bagi petani lainnya untuk tidak sembarangan dalam memilih varietas padi. Konsultasi dengan pihak terkait dan pemahaman terhadap lingkungan tanam dinilai penting untuk mencapai hasil pertanian yang maksimal.(#)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hayo mau copy paste ya?