Ramadhan pada Era Digital Antara Astronomi Akhlak dan Kesabaran

Oleh Prof. Dr. Ir. Chhablullah Wibisono, MM, IPU

Batam – detikperistiwa.co.id

Wakil Rektor I UNIBA, PW Muhammadiyah Kepri, Wakil Ketua Umum MUI Kepri, Ketua FKUB Kota Batam

Kita hidup pada zaman yang ditandai oleh percepatan teknologi yang luar biasa. Dunia bergerak dalam genggaman. Informasi mengalir tanpa batas. Transaksi ekonomi berlangsung secara digital. Komunikasi berpindah dari ruang fisik ke ruang virtual. Bahkan penentuan awal Ramadhan kini dibantu oleh sistem astronomi digital yang presisi dan terukur. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak pernah bertentangan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Justru Islam menghargai sains sebagai bagian dari ikhtiar memahami tanda kebesaran Allah di alam semesta.

Allah SWT menegaskan dalam Al Quran bahwa matahari dan bulan diciptakan dengan perhitungan yang teratur agar manusia mengetahui waktu dan bilangan tahun. Ayat tersebut menjadi dasar bahwa sistem penanggalan dan perhitungan astronomi memiliki landasan ilmiah sekaligus spiritual. Dalam konteks modern, ijtimak, elongasi, dan ketinggian hilal dapat dihitung dengan teknologi digital yang sangat akurat. Digitalisasi dalam hal ini bukan ancaman, melainkan alat bantu dalam pelaksanaan ibadah.

Namun persoalan utama bukan terletak pada kecanggihan sistem, melainkan pada kualitas diri. Jika penentuan awal Ramadhan semakin presisi, apakah kualitas puasa kita juga semakin bermakna. Jika perangkat digital memerlukan restart, maka Ramadhan sesungguhnya adalah reboot ruhani. Ia bukan sekadar peristiwa tahunan, tetapi momentum pembaruan jiwa.

Era digital menghadirkan kemudahan sekaligus ujian. Informasi mudah diakses, tetapi berita palsu juga mudah tersebar. Komunikasi semakin cepat, tetapi perbincangan yang tidak bermanfaat juga semakin luas. Hiburan tersedia tanpa batas, tetapi kelalaian terhadap ibadah pun semakin terbuka. Teknologi bersifat netral. Manusia yang menentukan arah dan nilainya.

Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah latihan pengendalian diri yang menyeluruh. Ia mengajarkan kita menahan jari dari komentar negatif, menahan mata dari tontonan yang tidak bermanfaat, menahan pikiran dari iri dan dengki, serta menahan hati dari kesombongan. Dalam konteks digital, menjaga lisan berarti juga menjaga unggahan. Setiap status mencerminkan akhlak. Setiap komentar menunjukkan karakter. Setiap konten yang dibagikan menjadi jejak moral yang kelak dipertanggungjawabkan.

Rasulullah SAW bersabda bahwa sabar adalah setengah dari iman. Puasa adalah madrasah kesabaran. Dalam Al Quran disebutkan bahwa jika ada seratus orang yang sabar maka mereka mampu mengalahkan seribu orang yang tidak sabar. Kekuatan sejati bukan terletak pada jumlah pengikut, bukan pada popularitas, dan bukan pada viralitas, melainkan pada ketahanan iman dan kedewasaan akhlak.

Di era digital, ukuran keberhasilan sering dinilai dari jumlah pengikut, jumlah penonton, tingkat popularitas, dan penyebaran yang luas. Namun dalam Islam, ukuran kemuliaan adalah takwa. Ramadhan melatih disiplin spiritual melalui sahur tepat waktu, berbuka pada waktunya, dan menjaga shalat dengan penuh kesadaran. Ia menanamkan integritas pribadi yaitu jujur meskipun tidak ada yang melihat. Ia melatih kontrol diri dalam penggunaan media digital dengan tidak menyebarkan kebencian dan tidak memperkeruh suasana. Ia mengajarkan produktivitas ibadah, bukan sekadar produktivitas konten.

Digitalisasi tanpa akhlak akan melahirkan kerusakan. Teknologi tanpa iman akan melahirkan kegelisahan. Kita boleh hidup di era digital, tetapi hati harus tetap dekat kepada Allah dengan kelembutan dan kepekaan spiritual. Kemajuan teknologi seharusnya memperkuat nilai kemanusiaan, bukan mengikisnya.

Ramadhan juga menumbuhkan empati sosial. Rasa lapar yang kita rasakan melatih kepekaan terhadap mereka yang kekurangan. Dari sinilah lahir solidaritas dan kepedulian. Dari sinilah terbentuk masyarakat madani yang berkeadilan. Puasa bukan hanya ibadah individual, tetapi juga energi sosial untuk membangun peradaban yang bermartabat.

Mari jadikan Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi transformasi spiritual. Jadikan ia momentum untuk menurunkan ego, meningkatkan empati sosial, menguatkan solidaritas, dan mengasah kepedulian. Semoga Ramadhan menjadikan kita pribadi yang sabar dalam ujian, bijak dalam menggunakan teknologi, kuat dalam iman, dan istiqamah setelah Ramadhan berlalu.