Sikap Bahasa dalam Menyambut Bulan Ramadhan bagi Seorang Muballigh

Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd. Ketua Afiliasi Pengajar dan Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain Provinsi Kepulauan Riau

Riau – detikperistiwa.co.id

Bulan suci Ramadhan bukan sekadar momentum ibadah ritual, melainkan juga madrasah akhlak dan ruang pemurnian jiwa. Di dalamnya, setiap muslim diuji bukan hanya melalui lapar dan dahaga, tetapi juga melalui lisan dan sikap bahasa. Bagi seorang muballigh, Ramadhan adalah panggung dakwah yang lebih luas, lebih intens, sekaligus lebih sensitif. Di sinilah sikap bahasa menemukan relevansinya yang paling mendalam.

Bahasa dalam dakwah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin kepribadian dan integritas moral seorang da’i. Ia adalah jembatan antara teks wahyu dan konteks sosial.

Dalam tradisi Islam, kita belajar dari keteladanan Nabi Muhammad SAW yang berdakwah dengan kelembutan tutur, kejernihan makna, dan ketepatan diksi. Lisan beliau tidak pernah melukai, bahkan ketika menyampaikan kebenaran yang tegas. Ramadhan mengingatkan muballigh bahwa setiap kata adalah amanah, dan setiap kalimat akan dimintai pertanggungjawaban.

Sikap bahasa seorang muballigh dalam menyambut Ramadhan harus berlandaskan hikmah, maw‘izhah hasanah, dan mujadalah billati hiya ahsan. Hikmah tercermin dalam kebijaksanaan memilih tema, mempertimbangkan kondisi jamaah, serta memahami keragaman latar belakang sosial. Maw‘izhah hasanah tampak pada kelembutan dan kehangatan pesan yang menenangkan hati. Sementara mujadalah yang baik mengajarkan bahwa perbedaan pandangan tidak boleh direspons dengan bahasa yang keras, apalagi provokatif.

Di era media digital yang serba cepat, tantangan bahasa semakin kompleks. Seorang muballigh tidak hanya berbicara di mimbar masjid, tetapi juga di ruang-ruang virtual: media sosial, kanal video, dan portal daring. Dalam konteks ini, sikap bahasa harus semakin terjaga. Ramadhan sering kali menghadirkan perbedaan penetapan awal puasa, metode ibadah, hingga praktik tradisi lokal. Di sinilah kedewasaan berbahasa diuji. Bahasa yang merendahkan kelompok lain akan memantik polarisasi; bahasa yang merangkul akan menumbuhkan ukhuwah.

Sebagai Ketua Bidang Penerbitan dan Media Massa Perkumpulan Muballigh Kota Batam, saya memandang bahwa muballigh harus menjadi teladan literasi keagamaan yang moderat dan mencerdaskan. Ramadhan bukan ruang untuk retorika yang membakar emosi, melainkan kesempatan untuk menyuburkan empati. Kata-kata yang dipilih hendaknya membangun kesadaran spiritual, bukan menebar ketakutan berlebihan. Tegas dalam prinsip, namun santun dalam penyampaian.

Sikap bahasa juga menyangkut kejujuran ilmiah. Dalam menyampaikan dalil, muballigh harus berhati-hati terhadap kutipan hadis yang belum jelas validitasnya atau cerita-cerita populer yang tidak memiliki dasar kuat.

Ramadhan sering dibanjiri pesan berantai bernuansa religius yang belum tentu sahih. Seorang muballigh berkewajiban menyaring, memverifikasi, dan meluruskan dengan bahasa yang tidak menggurui, tetapi mencerahkan. Integritas bahasa adalah bagian dari integritas dakwah.

Lebih dari itu, Ramadhan adalah bulan pengendalian diri. Jika puasa bertujuan melatih kesabaran, maka bahasa adalah indikator keberhasilannya. Muballigh yang mampu menjaga lisannya dari ujaran yang menyudutkan, sindiran tajam, atau caci maki, sesungguhnya sedang menunjukkan kualitas puasanya. Bahasa yang teduh adalah refleksi hati yang bersih. Dalam konteks sosial Kota Batam yang majemuk, sikap bahasa yang inklusif menjadi sangat penting agar dakwah menjadi perekat, bukan pemecah.

Bahasa juga memiliki dimensi estetika. Ramadhan identik dengan suasana khusyuk, syahdu, dan penuh harap. Muballigh perlu menghadirkan diksi yang menyentuh, metafora yang menggugah, dan narasi yang menghidupkan semangat ibadah. Namun keindahan bahasa tidak boleh mengorbankan substansi. Retorika tanpa kedalaman hanya akan menjadi gema kosong. Sebaliknya, kesederhanaan yang tulus sering kali lebih membekas di hati jamaah.

Pada akhirnya, sikap bahasa dalam menyambut Ramadhan bagi seorang muballigh adalah wujud tanggung jawab moral dan spiritual. Bahasa harus menjadi sarana memuliakan bulan suci, menguatkan ukhuwah, serta menumbuhkan kesadaran kolektif untuk memperbaiki diri. Ramadhan bukan hanya momentum memperbanyak ceramah, tetapi juga memperhalus tutur kata, memperjernih niat, dan memperdalam makna.

Jika setiap muballigh mampu menjadikan bahasanya sebagai cahaya, maka Ramadhan akan hadir bukan hanya sebagai bulan yang dirindukan, tetapi juga sebagai musim peradaban—di mana kata-kata menjadi doa, kalimat menjadi nasihat yang menyejukkan, dan dakwah menjelma sebagai rahmat bagi semesta.