Silaturahmi Ramadhan dan Reaktualisasi Spirit Kejuangan dalam Bingkai Kebangsaan

Jakarta – detikperistiwa.co.id

Ramadhan selalu menjadi momentum strategis untuk mempertemukan spiritualitas dan solidaritas sosial. Dalam suasana penuh keberkahan itu, Badan Pengurus Nasional Ikatan Kerukunan Keluarga Gowa (BPN IKKG) menyelenggarakan buka puasa bersama di Mampang Square Tower C Lt. 2, Wisma Haji dan Umrah Indonesia, Jakarta Selatan. Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan ruang konsolidasi nilai, identitas, dan komitmen kebangsaan dalam balutan tradisi kekeluargaan.
Kehadiran para tokoh nasional serta unsur Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) memperlihatkan bahwa jejaring kultural masyarakat Sulawesi Selatan memiliki daya hidup yang kuat di tengah dinamika ibu kota. Dalam sambutannya, Ketua Umum BPN IKKG, Prof. Dr. H. Awaluddin Calla, M.Pd., menegaskan pentingnya menjaga silaturahmi sebagai fondasi kekuatan sosial. Ramadhan, menurutnya, bukan hanya momentum ibadah personal, tetapi juga wahana mempererat persaudaraan, memperkuat empati, dan menyatukan visi kebersamaan.
Yang membuat kegiatan ini memiliki dimensi lebih luas adalah dirangkaikannya dialog dengan tema “Membumikan Nilai-Nilai Kejuangan Syekh Yusuf Al-Makassari.” Tema tersebut menghadirkan refleksi historis sekaligus relevansi kontemporer. Syekh Yusuf al-Makassari dikenal sebagai ulama, sufi, dan pejuang yang tidak hanya berperan dalam dakwah, tetapi juga dalam perlawanan terhadap kolonialisme. Jejak perjuangannya melintasi Nusantara hingga Afrika Selatan, menjadikannya figur global dengan akar lokal yang kuat.
Dialog yang menghadirkan Dr. H. Mukhlis Paeni, M.A. sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Dr. drg. Arief Rosyid menjadi forum intelektual yang memperkaya makna acara. Membumikan nilai kejuangan Syekh Yusuf bukan berarti mengulang romantisme sejarah, melainkan mengaktualisasikan semangat integritas, keberanian moral, dan keteguhan prinsip dalam kehidupan masa kini. Di tengah arus pragmatisme dan tantangan globalisasi, spirit tersebut relevan sebagai kompas etika bagi generasi muda.
Buka puasa bersama ini menunjukkan bahwa tradisi keagamaan dapat menjadi panggung pembinaan karakter dan penguatan kesadaran sejarah. Ia mengajarkan bahwa identitas kultural tidak bertentangan dengan nasionalisme; sebaliknya, akar budaya yang kokoh justru memperkuat kontribusi terhadap bangsa. Dalam ruang silaturahmi yang hangat, nilai-nilai perjuangan diwariskan, solidaritas diperkuat, dan komitmen kebangsaan diteguhkan.
Ramadhan dengan demikian bukan hanya bulan ibadah ritual, tetapi juga bulan konsolidasi moral dan sosial. Dari meja-meja buka puasa dan ruang dialog kebangsaan, lahir harapan bahwa komunitas-komunitas kultural seperti IKKG terus menjadi penjaga nilai, perawat sejarah, dan penggerak etika publik. Inilah wajah Ramadhan yang mencerahkan: menyatukan hati, menguatkan identitas, dan menyalakan kembali spirit kejuangan untuk Indonesia yang lebih bermartabat.(Nursalim Turatea).