‘Warkop Vivi’ Kota Manggar Belitung Timur, Tempat Nongkrong Hingga Bisnis Dan Pekerjaan
detikperistiwa.co.id

Belitung adalah penghasil tambang timah terbesar diseluruh Indonesia, dan masyarakatnya mayoritas nambang, ini menunjukan bahwa tambang timah sebagai penopang ekonomi . Kota Manggar juga terkenal dengan julukan kota 1001 warung kopi serta kisah nyata film yang berjudul “Laskar Pelangi”, karangan sastrawan kelahiran kecamatan Gantung BelitungTimur, Andre Hirata.
Dewasa ini, warkop di Belitung Timur kota Manggar masih ramai dikunjungi warga, meski mereka bukanlah penambang. Manfaat warkop sebagai tempat mendapatkan informasi dan pekerjaan ternyata belum berubah pty (inisial) warga T Belitung Timur, misalnya, mengaku banyak mendapatkan manfaat dari hasil ngopi di warkop. Jumat (03/05/2024)
“Yang tadinya tidak punya pekerjaan, bisa pulang bawa pekerjaan karena mengobrol di warkop,” kata pty yang kesehariannya sebagai Ormas kepada media.
Kebiasaan ngopi di warkop sudah lekat dalam dirinya. Dalam sehari, ia ngopi di warkop sebanyak tiga hingga empat kali. Namun, ketika sudah mendapatkan pekerjaan, kebiasaan itu ia tinggalkan sejenak, ungkap pty.
Berbeda dengan tradisi ngopi di kafe yang kini menjamuri kota besar, di Belitung Timur tradisi ngopi masih cukup tradisional. Tempatnya masih berbentuk warung dengan bangku kayu panjang. Warkop di Belitung Timur buka dari pagi hingga tengah malam. “Biasanya, buka sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 01.00 pagi bila pengunjungnya sedang ramai,” kata pty.
Salah satu pengunjung tergabung di Sekber Ormas Belitung Timur, Rudi jw/ Mudong mengatakan, keistimewaan warkop Belitung Timur terletak pada atmosfernya. “Di warkop Belitung Timur kota Manggar, yang dijuluki kota 1001 warung kopi kesannya lebih merakyat. Pengunjung bebas saja kalau mau ngopi sambil angkat kaki di atas meja,” katanya.
Harga kopi pun menurut Rudi jw/mudong dan kawan kawan Sekber Ormas Belitung Timur sangat murah. Untuk kopi tanpa susu kental manis, dipatok dengan harga Rp 6 ribu, sementara bila dengan susu kental manis dihargai Rp 7 ribu. “Padahal, kopinya sangat kental dan nikmat, kata Rudi JW/Mudong dan rekan rekannya.
Dari segi rasa, ia mengatakan kopi Belitung Timur terasa lebih pahit dibandingkan di luar daerah. “Yang spesial dari kopi di sini adalah cara dibuatnya, yaitu direbus,” katanya.
Pemilik warkop Vivi Md, mengatakan dari hasil sehari harinya cukup lumayanlah, konsumen pelanggan yang ngopi mayoritas mereka adalah rata rata penambang timah dan dari luar daerah. Meskipun saat ini harga timah belum stabil, Alhamdulillah warung saya masih ramai pengunjungnya, tutur Vivi Md.ptysht


