Siborongborong – detikperistiwa.co.id
Di tengah suasana penuh makna Paskah, hamparan hijau di Dusun Lumban Dapdap, Km 3,5, Desa Pohan Tonga, Kecamatan Siborongborong, menjadi saksi kebersamaan yang hangat dari pomparan Ompu Tanggungan Tampubolon. sabtu, 04/04/2026
Seperti tahun-tahun sebelumnya, momen ziarah Paskah kembali menyatukan keluarga besar dalam satu tujuan mulia: menghormati leluhur sekaligus merawat warisan yang telah ditinggalkan. Dengan penuh kekompakan, tua-muda, laki-laki dan perempuan, bahu-membahu membersihkan area pekuburan keluarga.
Suara cangkul, sapu, dan percakapan hangat bercampur menjadi satu, menghadirkan suasana yang bukan hanya tentang kerja, tetapi juga tentang rasa memiliki dan cinta terhadap akar keluarga.
Ompu Tanggungan Tampubolon beristrikan Boru Lumban Toruan sendiri memiliki lima garis keturunan, yakni Ompu Pakko , Ompu Jalunga, Ompu Paremean (Guru Ballong), Ompu Mimin, dan Ompu Pintoa.
Kini, tiga garis keturunan—Ompu Jalunga beristri kan boru Sianturi, Ompu Paremean beristrikan boru Siahaan, dan Ompu Mimin beristri kan boru Lumban toruan—masih menetap di wilayah Siborongborong, sementara dua lainnya telah merantau ke wilayah Simalungun.
Di sela kegiatan, perwakilan keturunan Ompu Jalunga, Manosor Tampubolon dan Saut Tampubolon, menyampaikan rasa syukur atas kebersamaan yang tetap terjaga hingga hari ini. Bagi mereka, ziarah ini bukan sekadar tradisi, melainkan pengikat yang menyatukan keluarga lintas generasi.

Hal serupa juga dirasakan oleh perwakilan dari keturunan Ompu Paremean, Op Arvane (boru) , Guntur tampubolon, Manat tampubolondan Lehet Tampubolon, yang mengaku haru melihat kekompakan keluarga besar yang tetap solid dalam menjaga dan menghormati peninggalan leluhur.
Sementara itu, Hemat Tampubolon dari keturunan Ompu Mimin mengungkapkan kebanggaannya atas kuatnya hubungan kekerabatan yang terus hidup, meski zaman terus berubah.
Menanggapi kegiatan tersebut, pemerhati sosial dan budaya Batak, Alboin Butar Butar, SH, menilai bahwa tradisi ziarah Paskah yang dilakukan pomparan Ompu Tanggungan Tampubolon memiliki nilai yang sangat penting dalam menjaga identitas dan warisan leluhur.
Ia menyebutkan, kegiatan gotong royong membersihkan makam bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda untuk mengenal asal-usul dan silsilah keluarga.
“Tradisi seperti ini perlu terus dijaga, karena di dalamnya ada nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, serta penguatan ikatan kekerabatan. Ini yang menjadi kekuatan utama dalam budaya Batak,” ujarnya.
Selain itu, momen ziarah juga dinilai mampu menjadi ruang pertemuan lintas generasi, di mana orang tua, pemuda, hingga anak-anak dapat berinteraksi dan mempererat hubungan kekeluargaan.
Ia berharap kegiatan seperti ini tetap dilestarikan dan bahkan dapat dikembangkan menjadi agenda rutin yang lebih terorganisir, sehingga nilai-nilai budaya dan spiritual tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Lebih dari sekadar membersihkan makam, momen ini menjadi ruang perjumpaan—tempat cerita lama dihidupkan kembali, tawa dibagikan, dan hubungan kekeluargaan diperkuat.
Ziarah Paskah pomparan Ompu Tanggungan Tampubolon pun menjadi bukti bahwa di tengah arus modernisasi, nilai gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan kepada leluhur tetap tumbuh dan terjaga dengan kuat.
(DP/L.Tamp)


