Jakarta – detikperistiwa.co.id
Ketua Senat STMA (Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi) Trisakti Bapak Robidi, S.H., M.H.,QCRO, RMAC. dampingi Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh RI (Republik Indonesia) untuk Kesultanan Oman merangkap Republik Yaman Bapak Andi Rahadian S.H.,LLM Menghadiri acara Seminar Nasional Dalam Rangka Dies Natalis STMA Trisakti ke 42 di Kampus C Trisakti yang diselenggarakan pada tanggal 29 April 2026. Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan sekadar isu berita internasional. Melainkan sebuah variabel ekonomi yang nyata bagi Indonesia. Hal ini disampaikan Ketua Ketua STMA Trisakti, Dr Antonius Anton Lie, S.E, M.M pada Acara Rangka Dies Natalis ke-42 STMA Trisakti “Seminar Nasional Antisipasi Dampak Perang AS dan Israel vs Iran terhadap Stabilitas Pertumbuhan Industri Perasuransian”, Rabu (29/04/2026).
“Sebagai negara dengan ketergantungan pada stabilitas rantai pasok global dan fluktuasi harga energi, Indonesia berada pada titik di mana kewaspadaan adalah sebuah keharusan. Saat ini pemerintah melakukan intervensi supaya masyarakatnya bisa mendapatkan harga BBM yang terjangkau,” ujar Antonius.
Beliau juga mengungkapkan mengapa masalah tersebut menjadi krusial bagi industri perasuransian yang didasari empat alasan. Pertama, volatilitas pasar modal. Di mana ketidakpastian global langsung berdampak pada instrumen investasi yang menjadi penopang cadangan teknis perusahaan asuransi. Khususnya asuransi jiwa pengelola investasi dana orang dari beberapa tahun diinvestasikan.
Kedua, kenaikan risiko operasional. Dinamika ini memicu fluktuasi inflasi, inflasi medis dan biaya reasuransi global yang dapat menekan profitabilitas industri di dalam negeri. Ketiga, risiko penggantian kerugian akibat perang. Pihak asuransi tidak menanggung risiko perang. Keempat, daya beli masyarakat. Stabilitas ekonomi makro yang terganggu tentu akan mempengaruhi prioritas masyarakat dalam proteksi diri dan aset.
Selanjutnya Ketua Pengurus Trisakti, Prof. Ainun Na’im, Ph.D yang turut hadir mengatakan, situasi geopolitik saat ini ada peperangan yang mengakibatkan berbagai kegiatan ekonomi, bisnis, dan kehidupan masyarakat tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya.
“Ini juga diikuti masalah rantai pasok, karena transportasi terganggu, kemudian pemenuhan kebutuhan-kebutuhan khususnya energi lantas terganggu. Memang lantas masalah asuransi yang berkaitan dengan ketidakpastian itu tidak dapat mencapai tujuannya karena ketidakpastiannya sangat tinggi,” jelas Ainun.
Ia menuturkan dengan ada masalah ketidakpastian dan bagaimana cara bisa mengelola risiko dengan baik supaya dapat mengendalikan risiko pada tingkat yang dapat dikelola. Sehingga itu sangat komprehensif dan dapat didekati dari berbagai sudut.
“Sehingga dalam seminar ini, ada diskusi yang menghadirkan berbagai ahli, ahli hukum, juga politik, dan aspek-aspek lain, itu adalah sesuatu yang sangat baik sehingga kita dapat menghasilkan pendekatan-pendekatan atau kebijakan bahkan mungkin strategi bagaimana kita bisa menjaga tingkat risiko ini sehingga ada dalam kendali kita,” pungkasnya.
Turut hadir sebagai pembicara dalam seminar Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia, Yulius Bhayangkara, SIP, ANZHF (Sar Assoc) CIP, CIIB, CRGG, Guru Besar Ilmu Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Prof. Hikmahanto Juwana, S.H, LLM, PH.D , Direktur Teknik Operasi Indonesia Re, Delil Kahirat, S.Si, MBA, ACII, FIIS, Ketua Umum AAUI, Budi Herawan, S.E, RMAC, QCRO.












