Sidoarjo – detikperistiwa.co.id
Belum genap satu tahun sejak pergantian kepengurusan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin, berbagai keluhan mulai bermunculan.
Pengelolaan yang sebelumnya dinilai berjalan lancar, kini disebut mengalami sejumlah permasalahan, baik dari sisi operasional maupun administrasi.
Kepengurusan lama yang dipimpin oleh Luqman Arif bersama bendahara Sudarmaji disebut mampu menjaga stabilitas layanan tanpa adanya komplain berarti dari warga.
Namun, setelah estafet kepemimpinan beralih kepada Ainur Rofiq (RT 02/01), Herman firmansah(RT 05), dan Peranoto (RT 06), kondisi pengelolaan TPST dinilai memburuk.
Salah satu perangkat desa yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa selama masa kepengurusan sebelumnya, pelayanan berjalan normal dan minim keluhan.
“Dulu hampir tidak ada komplain dari warga.
Tapi sekarang, setelah pergantian pengurus, justru banyak masalah muncul,” ujarnya.
Sejumlah warga mengeluhkan keterlambatan pengambilan sampah yang dinilai tidak sesuai dengan jadwal.
Selain itu, transparansi pengelolaan administrasi juga menjadi sorotan.
Warga menilai program, visi, dan misi yang disampaikan pengurus baru tidak berjalan sesuai dengan realita di lapangan.
Tidak hanya warga, para pekerja TPST juga turut menyuarakan ketidakpuasan.
Mereka mengaku menghadapi berbagai kendala teknis, seperti kondisi armada pengangkut sampah yang sering mengalami kerusakan.
Bahkan, salah satu pekerja mengaku kesulitan mendapatkan dana operasional untuk bahan bakar kendaraan.
“Untuk minta uang bensin saja susah.
Sangat berbeda dengan kepengurusan lama.
Dulu juga ada tunjangan saat hari raya, sekarang tidak ada sama sekali.
Akhirnya saya memilih mengundurkan diri,” ungkapnya.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan menurunnya kualitas layanan kebersihan di Desa Kedungbanteng.
Warga berharap adanya evaluasi menyeluruh dari pihak terkait agar pengelolaan TPST dapat kembali berjalan optimal dan transparan demi kepentingan bersama.(Luq wong)












