Batam – detikperistiwa.co.id
Peringatan 40 hari wafatnya almarhum H. Muhammad Amin Bin H. Abdul Hafid tidak sekadar menjadi agenda seremonial keagamaan, melainkan menjelma sebagai ruang silaturahmi yang hangat dan penuh makna. Digelar pada Minggu, 3 Mei 2026, kegiatan ini mempertemukan keluarga, tokoh masyarakat, serta unsur pemerintahan dalam satu ikatan spiritual yang kokoh.
Sejak awal acara, suasana terasa begitu khidmat. Pembukaan berlangsung sederhana, namun mampu menghadirkan ketenangan batin bagi para hadirin. Lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Ananda Muhammad Hafiz Dhiyaulhaq menjadi pintu masuk menuju perenungan yang lebih dalam tentang hakikat kehidupan dan kematian.
Rangkaian pembacaan Surah Yasin dan tahlil yang dipimpin oleh Kiyai Muhammad Habib Rifai, SHI, berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Setiap bacaan doa menggema, seakan menjadi jembatan antara yang hidup dan yang telah berpulang, mempertegas nilai keimanan yang tertanam kuat dalam tradisi masyarakat.
Momentum ini semakin bermakna melalui tausiyah yang disampaikan oleh Drs. KH Mustami Husein Al Hafiz. Dalam penyampaiannya, ia mengingatkan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan yang hakiki. Ia juga mengajak para hadirin untuk menjadikan peristiwa ini sebagai cermin untuk memperbaiki diri, memperkuat ibadah, dan menjaga hubungan baik antar sesama.
Doa yang dipimpin oleh KH Mustamin Husein menjadi puncak spiritual dari seluruh rangkaian acara. Dengan penuh harap, para hadirin memanjatkan doa agar almarhum mendapatkan ampunan, dilapangkan kuburnya, serta ditempatkan di sisi terbaik di hadapan Allah SWT.
Kehadiran berbagai tokoh penting turut memberikan warna tersendiri dalam kegiatan ini. Di antaranya Dr. M. Nur, M.Pd dari Biro Kesra Provinsi Kepulauan Riau, Dian Batong dari BPBD Kepri, Ketua PW IPIM Kepri, KH Muj Yamin Ketua PD IPIM Batam, Ibu Camat Kecamatan Nongsa, KH Marsafwan, Lc., MA sebagai tokoh masyarakat Nongsa, serta Imam Masjid Tanjak Ustadz Fahmi Ulum Assafar. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa nilai kebersamaan dan kepedulian sosial masih terjaga dengan baik di tengah masyarakat.
Lebih dari sekadar mengenang, kegiatan ini menghadirkan refleksi mendalam tentang arti kehidupan, pentingnya doa, serta kekuatan silaturahmi. Di tengah kesedihan, terselip harapan dan keikhlasan yang menjadi penguat bagi keluarga yang ditinggalkan.
Dengan terselenggaranya doa dan tahlil 40 hari ini, keluarga besar almarhum berharap agar segala amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT. Sementara bagi para hadirin, momen ini menjadi pengingat bahwa kehidupan yang dijalani hari ini pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta, sehingga setiap langkah hendaknya diisi dengan kebaikan dan keberkahan.(Nursalim Turatea).












