Makassar, detikperistiwa.co.id – Pemerintah Kota Makassar melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pemahaman Sistem Deteksi Dini Tahun Anggaran 2026.
Kegiatan ini berlangsung di Hotel Vasaka Makassar, Selasa (5/5/2026), dengan mengusung tema “Optimalisasi Deteksi Dini Guna Mengantisipasi Potensi Konflik di Kota Makassar”.
Bimtek tersebut dibuka oleh Staf Ahli Wali Kota Makassar, Akhmad Namsun, dan diikuti unsur tokoh masyarakat, RT/RW, serta menghadirkan sejumlah narasumber dari aparat keamanan seperti Denpom, Brimob, Kodaeral VI Makassar, dan unsur terkait lainnya.

Kepala Badan Kesbangpol Kota Makassar, Dr. Ir. H. Fathur Rahim, ST., MT., IAI, yang didampingi Kabid Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Drs.Muh. DJamaluddin Maulana, M.Si menegaskan pentingnya deteksi dini dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat.
“Alhamdulillah hari ini kita melaksanakan kegiatan deteksi dini bersama tokoh masyarakat dan berbagai unsur. Ini penting agar setiap aktivitas bisa berjalan aman, tenteram, dan sukses,” ujar Fathur Rahim.
Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi forum sosialisasi, tetapi juga ruang diskusi bagi masyarakat untuk memahami tahapan dalam menyaring informasi dan mengantisipasi potensi gangguan keamanan sejak awal.
“Semua aktivitas kita membutuhkan deteksi dini. Kita harus melihat situasi awal, memastikan apakah informasi itu benar atau tidak, sehingga tujuan akhirnya adalah ketenteraman dan kedamaian masyarakat,” jelasnya.
Fathur menyoroti peran strategis RT/RW dan tokoh masyarakat sebagai garda terdepan dalam menjaga lingkungan. Mereka diharapkan mampu menjadi filter awal terhadap informasi yang beredar, terutama yang berpotensi menimbulkan provokasi.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menyortir setiap informasi dengan baik. Tangkal hoaks secara arif dan bijaksana agar tidak memicu keresahan,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa tingkat toleransi di Kota Makassar menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, Makassar kini masuk dalam jajaran 10 besar kota toleran di Indonesia, tepatnya berada di posisi ke-9.
“Dulu kita berada di posisi 300-an, kemudian naik ke 50 besar, dan sekarang berada di posisi ke-9. Ini menunjukkan lonjakan yang sangat signifikan,” ungkapnya.
Fathur menegaskan, capaian tersebut tidak lepas dari peran dan kepemimpinan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin bersama Wakil Wali Kota Aliyah Mustika, serta kolaborasi erat dengan TNI-Polri dan seluruh elemen masyarakat.
“Ini berkat kolaborasi yang baik di bawah kepemimpinan Bapak Wali Kota dan Ibu Wakil Wali Kota, didukung aparat dan masyarakat yang semakin sadar pentingnya menjaga kondusivitas,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan menjaga stabilitas tidak hanya berdampak pada keamanan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan warga.
“Kalau kondisi aman dan tenteram, roda ekonomi juga berjalan baik. Ini saling berkaitan,” tambahnya.
Fathur juga menyinggung bahwa potensi konflik kerap dipicu oleh informasi yang tidak akurat atau hoaks. Oleh karena itu, peningkatan literasi informasi di masyarakat menjadi bagian penting dalam strategi deteksi dini.
“Kita harus mampu memilah informasi, jangan mudah terprovokasi. Semua pihak, termasuk media, punya peran penting dalam menjaga suasana tetap kondusif,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan Bimtek ini akan terus dilaksanakan secara bertahap di seluruh kecamatan di Kota Makassar, dengan menyesuaikan karakteristik wilayah masing-masing.
“Kita lakukan per kecamatan karena setiap wilayah punya potensi kerawanan yang berbeda. Dengan begitu, penyelesaian bisa dilakukan secara cepat dan tepat melalui diskusi bersama,” pungkasnya. (niar)












