Maknai Hardiknas 2026, Kepsek SDI Malengkeri Bertingkat I : Pendidikan Bermutu Dimulai dari Kolaborasi Semua Pihak

Makassar, detikperistiwa.co.id – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan untuk memperkuat sinergi lintas sektor.

Kepala UPT SPF SDI Malengkeri Bertingkat I, Hj. Rosnaeni S.Pd., M.Pd., saat ditemui, menegaskan bahwa tema Hardiknas tahun ini, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, harus dimaknai secara luas dan implementatif.

“Partisipasi semesta itu bukan hanya di sekolah. Lingkungan keluarga, masyarakat, hingga pembelajaran di luar sekolah seperti bimbingan belajar dan pendidikan keagamaan, semuanya punya peran besar dalam meningkatkan mutu pendidikan,” kata Rosnaeni, Selasa (05/05/2026).

Ia menekankan bahwa sekolah bukan satu-satunya tempat bagi anak untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. Menurutnya, pembentukan karakter justru banyak dipengaruhi oleh lingkungan di luar sekolah.

“Pendidikan bermutu itu bukan sekadar mengejar nilai atau ranking. Yang paling utama adalah perubahan sikap dan karakter anak ke arah yang lebih baik,” ujarnya.

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang dipimpinnya, Rosnaeni menyebut ada beberapa prioritas utama yang menjadi fokus. Pertama, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya para guru.

“SDM itu menjadi tonggak utama dalam proses pembelajaran. Guru adalah penentu keberhasilan pendidikan,” jelasnya.

Selain itu, sarana dan prasarana juga dinilai menjadi faktor penting dalam menunjang proses belajar mengajar. Ia menilai, kurikulum yang baik tidak akan maksimal tanpa dukungan fasilitas yang memadai.

“Program pembelajaran bisa saja bagus, tapi kalau sarana tidak mendukung, tentu hasilnya tidak akan optimal,” katanya.

Tak hanya itu, pihak sekolah juga terus mengembangkan berbagai program pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan siswa secara menyeluruh.

Di sisi lain, Rosnaeni juga mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam mewujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas. Salah satunya adalah memastikan tidak adanya diskriminasi dalam proses pembelajaran.

“Semua siswa harus mendapatkan hak yang sama. Tidak boleh ada perlakuan berbeda atau pilih kasih. Setiap anak punya hak untuk berkembang sesuai bakat dan minatnya,” tegasnya.

Tantangan lainnya adalah rendahnya minat siswa terhadap sekolah tertentu yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Hal ini, kata dia, berdampak pada semangat belajar siswa.

“Kalau anak tidak berminat di sekolahnya, biasanya mereka kurang responsif dan kurang bersemangat dalam belajar,” ujarnya.

Selain itu, penggunaan teknologi di kalangan tenaga pendidik dan siswa juga menjadi perhatian serius. Rosnaeni menilai, pemanfaatan teknologi harus dilakukan secara bijak dan tepat sasaran.

“Guru harus mampu menggunakan teknologi sebagai media pembelajaran. Kalau tidak, kita akan tertinggal. Begitu juga dengan siswa, penggunaan handphone harus diawasi agar benar-benar dimanfaatkan untuk belajar, bukan hanya untuk media sosial,” jelasnya.

Ia pun berharap momentum Hardiknas 2026 dapat menjadi refleksi bersama untuk menghadirkan pendidikan yang lebih bermakna, baik bagi guru maupun siswa.

“Saya berharap pendidikan ini benar-benar bermakna. Bermakna bagi guru dalam menjalankan tugasnya, dan bermakna bagi siswa sebagai bekal meraih cita-cita mereka menjadi pribadi yang terampil, kreatif, mandiri, serta tidak bergantung pada hal-hal negatif,” pungkasnya. (niar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *