Aktivitas Watu Lawang Tuai Keresahan, Pengamat Soroti Minimnya Sosialisasi

Detikperistiwa.co.id 

NGANJUK – Aktivitas pekerjaan di kawasan Watu Lawang, lereng Gunung Wilis, Kabupaten Nganjuk, mulai menimbulkan keresahan di kalangan sejumlah pengamat dan pemerhati lingkungan.

Kekhawatiran itu muncul menyusul adanya aktivitas alat berat, penebangan pohon, pengambilan batuan hingga pemotongan dan perubahan kontur tebing di kawasan tersebut.

Sejumlah pemerhati lingkungan menilai, kegiatan yang berpotensi mengubah bentang alam dan kondisi lingkungan semestinya dilakukan secara terbuka. Masyarakat, khususnya warga di sekitar kawasan, juga perlu mengetahui rencana kegiatan yang akan dilakukan beserta potensi dampaknya.

Namun, hingga kini sosialisasi mengenai rencana maupun bentuk kegiatan di kawasan Watu Lawang dinilai belum banyak diketahui masyarakat. Kondisi itu kemudian memunculkan sejumlah pertanyaan, mulai dari siapa pihak yang melakukan kegiatan, apa tujuan pemanfaatan kawasan tersebut hingga bagaimana status perizinan dan kajian lingkungannya.

Keresahan semakin berkembang karena aktivitas fisik di lokasi disebut telah terlihat. Sementara informasi mengenai dasar kegiatan dan proses yang telah dilalui belum sepenuhnya diketahui publik.

“Kalau memang kegiatannya resmi dan seluruh prosesnya sudah ditempuh, masyarakat tentu perlu mendapatkan penjelasan. Jangan sampai masyarakat mengetahui setelah melihat pohon ditebang, tebing dipotong atau kondisi kawasan sudah berubah,” menjadi salah satu pandangan yang berkembang di kalangan pemerhati lingkungan.

Bagi mereka, persoalan ini bukan untuk menolak pembangunan. Namun pembangunan, terutama di kawasan yang memiliki karakteristik lingkungan tertentu, perlu dilakukan dengan perencanaan dan keterbukaan.

Watu Lawang berada di kawasan lereng Gunung Wilis. Perubahan kontur tanah, pemotongan tebing, pembukaan lahan maupun berkurangnya vegetasi perlu menjadi perhatian karena berkaitan dengan kondisi tanah, aliran air dan lingkungan di sekitarnya.

Karena itu, sejumlah pihak berharap kegiatan tersebut dapat dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat.
Pemkab Nganjuk dan instansi terkait pun didorong untuk memberikan klarifikasi mengenai kegiatan yang berlangsung di Watu Lawang. Penjelasan tersebut dinilai penting untuk menjawab berbagai pertanyaan yang kini berkembang.

Pemerintah diharapkan dapat menjelaskan siapa pihak yang melaksanakan kegiatan, apa rencana pemanfaatan kawasan tersebut, bagaimana status lahannya, serta apakah kegiatan yang berlangsung telah memenuhi persyaratan sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain itu, perlu pula dijelaskan apakah telah dilakukan sosialisasi kepada masyarakat dan pihak-pihak yang berkepentingan di sekitar kawasan.

Jika sosialisasi memang sudah dilakukan, pemerintah dapat menyampaikan kapan kegiatan tersebut dilaksanakan dan kepada siapa informasi mengenai rencana pembangunan itu diberikan. Sebaliknya, apabila sosialisasi belum dilakukan, masyarakat tentu berharap ada penjelasan mengenai tahapan kegiatan yang sedang berjalan.

Transparansi dinilai menjadi hal penting agar tidak muncul kesan masyarakat hanya mengetahui adanya sebuah kegiatan setelah melihat perubahan fisik di lapangan.

Masyarakat sekitar juga memiliki kepentingan untuk mengetahui apa yang akan terjadi di lingkungannya. Terlebih jika kegiatan tersebut berpotensi mengubah kondisi kawasan yang selama ini dikenal sebagai bagian dari jalur dan kawasan wisata Gunung Wilis.

Di sisi lain, terkait ada atau tidaknya pelanggaran dalam kegiatan tersebut, tentu perlu didasarkan pada pemeriksaan dan keterangan resmi dari instansi yang berwenang. Karena itu, klarifikasi dari pemerintah menjadi penting agar persoalan ini tidak berkembang berdasarkan dugaan dan informasi yang simpang siur.

Kini perhatian publik tertuju pada langkah yang akan diambil pemerintah. Apakah akan segera melakukan pemeriksaan lapangan dan membuka informasi terkait kegiatan tersebut, atau membiarkan berbagai pertanyaan terus berkembang.

Masyarakat pada dasarnya hanya membutuhkan kejelasan. Jika seluruh prosedur telah dipenuhi, pemerintah tentu dapat menjelaskannya secara terbuka.

Namun jika masih ada tahapan yang belum diselesaikan, hal itu juga perlu disampaikan agar tidak menimbulkan kesan bahwa sebuah kegiatan berjalan lebih dulu, sementara masyarakat baru diminta memahami setelah kondisi kawasan mulai berubah.

Media ini membuka ruang klarifikasi dan hak jawab kepada Pemkab Nganjuk, pihak pelaksana kegiatan, pengelola kawasan serta instansi terkait untuk memberikan penjelasan mengenai aktivitas yang berlangsung di kawasan Watu Lawang. By

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budayakan. Rasa malu dan jangan mengcopy  karya orang lain